Langsung ke konten utama

Jalan yang Lurus

 “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (QS. Ghofir: 60)

Sesungguhnya ALLOH selalu mengabulkan doa kita. Hanya saja kita yang sering tidak menyadarinya. Atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah berdoa.

Ada sebuah doa yang selalu kita ulang setiap hari di dalam sholat. Tapi kita juga sering tidak menyadari bahwa kita telah berdoa meminta hal tersebut. Pada akhirnya kita tidak menanti-nanti terkabulnya doa tersebut.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fathihah: 6-7)

Di setiap sholat kita berdoa kepada ALLOH agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh ALLOH. Siapakah mereka?

“Dan barang siapa menaati ALLOH dan Rosul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh ALLOH, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)

Kita meminta petunjuk kepada jalan yang lurus, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Siapakah mereka?

Dari ‘Adi bin Hatim, bahwa Nabi Muhammad Shollalloohu ‘alaihi wa sallaam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang Yahudi dimurkai, dan orang-orang Nasrani adalah orang-orang yang sesat. Aku mengatakan, “Sesungguhnya aku datang sebagai orang Islam.” Maka aku melihat wajah Beliau membentang karena gembira.” (HR. Tirmidzi, no. 2954)

Imam Ibnu Katsir rohimahullooh berkata:

“Sesungguhnya jalan ahlul iman (orang-orang yang beriman) itu meliputi pengetahuan (ilmu) terhadap al-haq dan mengamalkannya. Orang-orang Yahudi kehilangan amal, sedangkan orang-orang Nasrani kehilangan ilmu. Oleh karenanya, kemurkaan (ALLOH) untuk Yahudi dan kesesatan untuk Nasrani. Karena orang yang telah mengetahui (al-haq) kemudian meninggalkan berhak untuk dimurkai, berbeda dengan orang yang belum mengetahui. Adapun orang-orang Nasrani, mereka menuju kesesatan, tetapi tidak mengikuti petunjuk jalan, karena mereka tidak mendatangi suatu urusan melalui pintunya, yaitu mengikuti al-haq, sehingga mereka menjadi sesat.

Dan mereka semua, Yahudi dan Nasrani, sesat dan dimurkai. Tetapi sifat yang paling khusus bagi Yahudi adalah kemurkaan (ALLOH), sebagaimana ALLOH berfirman tentang mereka:

“Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai ALLOH.” (QS. Al-Maidah:60)

Dan sifat yang paling khusus bagi Nasrani adalah kesesatan, sebagaimana ALLOH berfirman tentang mereka:

“Orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Nabi Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah:77)

Demikian pula hadits-hadits dan riwayat menyebutkan hal ini.” (Tafsir Al-Qur’anul ‘Azhim)

“Sungguh, Kami telah menurunkan ayat-ayat yang memberi penjelasan. Dan ALLOH memberi petunjuk siapa yang  Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. An-Nur: 46)

“Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami berikan kepada setiap jiwa petunjuk (bagi)nya, tetapi telah ditetapkan perkataan (ketetapan) dari-Ku, “Pasti akan Aku penuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. As-Sajdah: 13)

“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka  memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat) ALLOH) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan ALLOH), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat) ALLOH. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’rof: 179)

Mungkin selama ini kita sering lengah. Astaghfirullooh. Kita berdoa meminta diberi petunjuk kepada jalan yang lurus namun hati kita tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat ALLOH, mata kita tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan ALLOH, dan telinga kita tidak digunakan untuk mendengarkan ayat-ayat ALLOH.

“Maka apakah pantas orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya, lalu menganggap baik perbuatannya itu? Sesungguhnya ALLOH menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka janganlah engkau (Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya ALLOH Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. Fatir: 8)

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghoib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagaian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, dan mereka beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqoroh: 2-5)

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada ALLOH, niscaya Dia akan memberikan furqon (kemampuan membedakan antara yang haq dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. ALLOH memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)

Abdullah bin Mas’ud rodhiyalloohu ‘anhu berkisah, “Rosulullooh Shollalloohu ‘alaihi wa sallaam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan ALLOH’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian Beliau membaca, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya” (QS. Al-An’am: 153)” (Hadits shohih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya).

Para imam tafsir menjelaskan bahwa pada ayat ini, ALLOH menggunakan bentuk jamak ketika menyebutkan jalan-jalan yang dilarang manusia mengikutinya, yaitu kata “assubula”, dalam rangka menerangkan cabang-cabang dan banyaknya jalan-jalan kesesatan. Sedangkan pada kata tentang jalan kebenaran, ALLOH menggunakan bentuk tunggal dalam ayat tersebut, yaitu kata “sabiilihi”, karena memang jalan kebenaran itu hanya satu, dan tidak berbilang. (Sittu Duror, hal. 52)

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullooh berkata, “Dan ini disebabkan, karena jalan yang mengantarkan (seseorang) kepada ALLOH hanyalah satu. Yaitu sesuatu yang dengannya, ALLOH mengutus para Rosul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Tiada seorang pun yang dapat sampai kepada-Nya, kecuali melalui jalan ini.” (Sittu Duror, hal. 53)

Jalan yang lurus hanya ada satu. Apakah kita sudah berada di jalan yang lurus tersebut?

Jika ALLOH selalu mengabulkan doa dan kita selalu berdoa agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus, artinya ALLOH selalu memberi petunjuk kepada kita agar kembali kepada jalan yang lurus di kala kita melenceng atau berada di jalan yang sesat. Hanya saja kita seringkali tidak menyadari petunjuk tersebut.

Kita tidak peka dengan petunjuk karena kita lengah. Hati kita tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat ALLOH, mata kita tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan ALLOH, dan telinga kita tidak digunakan untuk mendengarkan ayat-ayat ALLOH. Astaghfirullooh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Takut dan Tidak Sedih

  “Kami berfirman, “Turunlah kalian semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (QS. Al-Baqoroh: 38) Lawan kata dari “takut” dalam Bahasa Indonesia adalah berani, tegas, tenang, percaya diri, atau tidak takut. Lawan kata dari “sedih” dalam Bahasa Indonesia adalah senang, riang, bahagia, sumringah, ria, bungah, ceria, atau bangga. Kata-kata ini memiliki arti yang menunjukkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan, atau kegembiraan yang kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada ALLOH dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 62) “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLOH, dan dia berbuat baik, di...

Semua Manusia Itu Baik

Dulu aku mengira semua orang di dunia ini baik. Dan ternyata memang semua orang itu baik. tapi ada yang baiknya itu level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Ada juga yang baiknya itu level 0, level -1, level -2, level -3, dan seterusnya, he he he. Tapi semua orang itu memang baik kok karena seburuk-buruknya orang pasti ada kebaikannya dan sebaik-baiknya orang juga pasti ada keburukannya. Tidak ada yang bisa sempurna bukan? Namun seringkali kita lebih mudah untuk melihat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Bahkan sampai terucap kalimat yang menghakimi seperti “Diaa itu memang sudah ga bisa berubah, kaya gitu terus dari dulu ga pernah bisa jadi baik.” padahal selama masih hidup di dunia masih ada peluang untuk berubah menjadi lebih baik. Apa yang difokuskan oleh pikiran maka itulah yang kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Ketika ada orang yang terlihat begitu sulit untuk berubah menjadi lebih baik, jangan-jangan ada peran kita di situ. Gara-gara kita berpikir bahwa orang ...