Langsung ke konten utama

Berkata Baik atau Diam

Bismillaah...
Alhamdulillaah akhirnya hati ini tergerak untuk menulis di blog. Sebenarnya sudah dari beberapa tahun yang lalu ada beberapa teman yang menyarankan kepadaku untuk menulis di blog.

Beberapa teman juga protes karena kalau aku menulis di status whatsapp maka setelah 24 jam akan menghilang secara otomatis. Alhasil mereka harus sedikit repot untuk menangkap layar dan menyimpannya di galeri HP masing-masing, jika ingin membaca tulisanku secara berulang-ulang. Ya aku bilang itu sudah menjadi konsekuensi jika mau belajar, ha ha ha. 

Karena aku sendiri masih belum siap untuk menulis di blog atau media sosial yang lain. Aku memilih menulis di status whatsapp justru karena akan menghilang secara otomatis setelah 24 jam.

Qodarullooh aku nih agak narsis ya, jadi kalau aku lihat tulisanku sendiri secara berulang-ulang rasanya tuh jadi rentan berbangga diri. Makanya aku perlu melatih hatiku dulu agar tidak narsis lagi.

Alhamdulillaah kali ini sepertinya aku sudah lebih siap, semoga ALLOH selalu menjaga hatiku agar tetap lurus hanya mengharap ridho-Nya, aamiin.

Dulu aku suka menulis di buku diary, sekarang juga masih sih tapi sangat jarang. Dan yang aku ingat di setiap halaman depan buku diaryku aku menuliskan kalimat "Berkata baik atau diam" sebagai pengingat bagiku agar menjaga kata-kata yang dituangkan dalam bentuk tulisan di buku.

Semoga di blog ini aku pun dapat menjaga kata-kata yang aku tulis, hanya menuliskan hal-hal yang baik dan melahirkan kebaikan-kebaikan yang lain, aamiin.

Aku masih perlu banyak belajar di dunia blog yang terbilang sangat baru bagiku. Awalnya aku malas banget karena ribet harus mengatur ini dan itu, tapi ya mungkin memang sudah saatnya aku keluar dari zona nyaman.

Aku harus berani mencoba hal baru agar hidupku lebih berwarna dan tidak lagi membosankan.

Baiklah, mari kita mulai petualangan kata di dunia blog yang semoga bisa menjadi ladang pahala, aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Takut dan Tidak Sedih

  “Kami berfirman, “Turunlah kalian semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (QS. Al-Baqoroh: 38) Lawan kata dari “takut” dalam Bahasa Indonesia adalah berani, tegas, tenang, percaya diri, atau tidak takut. Lawan kata dari “sedih” dalam Bahasa Indonesia adalah senang, riang, bahagia, sumringah, ria, bungah, ceria, atau bangga. Kata-kata ini memiliki arti yang menunjukkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan, atau kegembiraan yang kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada ALLOH dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 62) “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLOH, dan dia berbuat baik, di...

Jalan yang Lurus

  “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (QS. Ghofir: 60) Sesungguhnya ALLOH selalu mengabulkan doa kita. Hanya saja kita yang sering tidak menyadarinya. Atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah berdoa. Ada sebuah doa yang selalu kita ulang setiap hari di dalam sholat. Tapi kita juga sering tidak menyadari bahwa kita telah berdoa meminta hal tersebut. Pada akhirnya kita tidak menanti-nanti terkabulnya doa tersebut. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”  (QS. Al-Fathihah: 6-7) Di setiap sholat kita berdoa kepada ALLOH agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh ALLOH. Siapakah mereka? “Dan barang siapa menaati ALLOH dan Ros...

Semua Manusia Itu Baik

Dulu aku mengira semua orang di dunia ini baik. Dan ternyata memang semua orang itu baik. tapi ada yang baiknya itu level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Ada juga yang baiknya itu level 0, level -1, level -2, level -3, dan seterusnya, he he he. Tapi semua orang itu memang baik kok karena seburuk-buruknya orang pasti ada kebaikannya dan sebaik-baiknya orang juga pasti ada keburukannya. Tidak ada yang bisa sempurna bukan? Namun seringkali kita lebih mudah untuk melihat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Bahkan sampai terucap kalimat yang menghakimi seperti “Diaa itu memang sudah ga bisa berubah, kaya gitu terus dari dulu ga pernah bisa jadi baik.” padahal selama masih hidup di dunia masih ada peluang untuk berubah menjadi lebih baik. Apa yang difokuskan oleh pikiran maka itulah yang kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Ketika ada orang yang terlihat begitu sulit untuk berubah menjadi lebih baik, jangan-jangan ada peran kita di situ. Gara-gara kita berpikir bahwa orang ...