Langsung ke konten utama

Emosi dan Penyakit (Bagian 1)

Beberapa waktu yang lalu aku menyimak video penjelasan tentang kaitan antara emosi dan penyakit. Seperti yang kita tahu bahwa ketika tubuh sakit artinya sistem imun kita lemah. Tapi kita tidak menyadari bahwa emosi itu bekerja seperti sistem imun.

Jika sistem imun kita lemah maka kita menjadi sakit. Begitu juga yang terjadi jika emosi kita lemah maka kita pun menjadi sakit. Emosi lemah itu maksudnya bagaimana?

Emosi yang lemah itu adalah ketika kita tidak mampu mengalirkan emosi, kita tidak bisa mengekspresikan emosi, emosi yang muncul selalu ditekan. Padahal sistem imun dan emosi itu memiliki fungsi yang sama, yaitu untuk melindungi tubuh.

Jika emosi ditekan maka itu sama saja dengan menekan sistem imun, sistem imun pun menjadi lemah, akhirnya muncul penyakit.

Dan apa yang terjadi pada penyakit autoimun? Sistem imun yang menyerang tubuhnya sendiri. Ketika emosi terus ditekan dan ditekan, yang harusnya dialirkan atau diekspresikan tapi terus ditekan, akhirnya menekan tubuhnya sendiri, menyerang tubuhnya sendiri.

Seorang individu yang tinggal di sebuah lingkungan, apa pun yang terjadi pada lingkungan tersebut pasti akan mempengaruhi kondisi individu tersebut. Karena kita tidak dapat memisahkan individu dari lingkungannya.

Begitu juga dengan seorang anak yang tinggal di lingkungan keluarganya, dimana lingkungan pertama anak adalah orang tuanya, maka apa pun yang terjadi pada orang tuanya sudah tentu akan mempengaruhi kondisi anak tersebut.

Jika orang tua stres maka anak pun bisa merasakannya, dan mengakibatkan anak menjadi stres juga, akhirnya anak menjadi sakit. Misalnya seorang anak yang sakit asma, sudah bisa dipastikan bahwa orang tuanya stres.

Anak bisa diibaratkan  seperti ikan yang berenang di air, dan orang tuanya lah yang menjadi airnya. Bagaimana kondisi air dan apa pun yang terjadi pada air maka akan mempengaruhi kondisi ikan.

Faktor genetik bukanlah faktor terpenting dalam proses munculnya penyakit. Yang paling berpengaruh terhadap munculnya penyakit adalah kondisi lingkungan.

Sekali lagi kita lihat bahwa lingkungan pertama anak adalah orang tuanya, anak yang mengalami sakit dari sejak lahir itu adalah diakibatkan oleh stres tingkat tinggi yang dialami oleh orang tuanya yang sudah bisa dirasakan dari sejak dia berada dalam kandungan ibunya.

Jadi yang lebih perlu untuk dilakukan adalah memperbaiki lingkungan , bukan hanya fokus pada pengobatan si anak.

Seperti ikan yang sakit, jika ikannya diobati tetapi kondisi air tidak diperbaiki maka ikan pun akan tetap sakit, karena yang membuat ikan sakit adalah kondisi air yang tidak sehat.

Kasihan sekali ketika anak dicekoki dengan banyak sekali pil obat, tetapi orang tuanya tidak mau menyembuhkan stresnya.

Lalu kenapa kita stres? Stress dalam Bahasa Inggris berarti menekan. Apa yang ditekan? Emosi. Stres terjadi karena emosi yang ditekan. Emosi yang ditekan, yang tidak diberi kesempatan untuk diekspresikan.

Emosi yang ditekan, ditekan itu didorong ke bawah, semakin didorong ke bawah dan akhirnya menjadi rata. Terlihat baik-baik saja namun aslinya mati rasa, emosinya masih tetap ada.

Sekarang kita bahas tentang depresi, oh tentu saja ini adalah tema yang selalu menarik perhatianku, karena aku sendiri pernah mengalami depresi berkali-kali.

Apakah depresi adalah penyakit biologis yang diwariskan? Bukan! Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa depresi adalah penyakit yang disebabkan secara biologis.

Ada banyak bukti dan fakta yang menunjukkan bahwa mengonsumsi obat antidepresan dapat membantu penderita depresi merasa lebih baik. Obat antidepresan mengandung zat kimia seperti serotonin, dan obat itu membuat penderita depresi merasa lebih baik, tetapi itu tidak membuktikan bahwa depresi disebabkan oleh kekurangan serotonin.

Analogi yang dicontohkan seperti ini, jika seseorang pergi ke pesta dan dia merasa sangat malu kemudian dia minum segelas bir, dan dia pun merasa lebih ramah dan dia berbicara kepada orang lain dengan lebih percaya diri, apakah itu membuktikan bahwa kemampuan sosialisasi orang tersebut disebabkan oleh kurangnya bir di dalam otaknya? Analogi ini aku ambil dari video yang aku simak.

Jika kita melihat apa sebenarnya depresi itu, depress artinya menekan sesuatu, itu berarti mendorongnya ke bawah. Dan apa yang orang-orang dorong ketika mereka depresi? Emosi mereka. Apakah mereka merasa datar sekarang?

Mengapa seseorang menekan emosi mereka? Karena di masa kanak-kanak itu terlalu berbahaya bagi mereka untuk mengalami emosinya, karena momen dimana mereka ditolak oleh lingkungannya (orang tua atau pengasuh) jika mereka mengalami emosi mereka, sehingga akhirnya mereka menekan emosi mereka untuk menjadi bagian dari lingkungan dan diterima oleh lingkungannya.

Dan bertahun-tahun kemudian di masa dewasanya mereka didiagnosis dengan kondisi yang disebut depresi.

Bahkan saat ini depresi bisa terjadi di masa remaja. Karena masyarakat modern saat ini memiliki tingkat stres yang semakin tinggi. Orang tua yang stres membuat anak menjadi stres, kemudian anak tersebut menjadi dewasa dan menjadi orang tua yang stres juga, akhirnya melahirkan anak yang lebih stres lagi. Dan apa yang terjadi? 

Muncullah beragam penyakit baru. Dan kebanyakan penyakit kemudian disebut sebagai akibat dari faktor genetik, seolah-olah semua adalah hal yang acak atau random dimana penyakit akan secara acak memilih penderitanya.

Padahal gen itu merespon lingkungannya. Bagaimana gen itu menentukan kesehatan tubuh kita adalah tergantung bagaimana kondisi lingkungan kita. Jika lingkungan kita baik maka gen pun akan merespon dengan sesuatu yang baik.

Jadi apa yang sebenarnya perlu dilakukan untuk menyembuhkan penyakit? Bukan hanya fokus pada siapa yang sakit, tetapi juga siapa yang menjadi lingkungannya.

Jika seorang anak sakit maka orang tuanya juga harus disembuhkan, karena anak yang sakit itu akibat dari orang tua yang sudah lebih dulu sakit.

Ingat bahwa tubuh itu terdiri dari banyak aspek, bukan hanya tubuh fisik. Jadi ketika tubuh sakit maka yang diobati bukan hanya tubuh fisik saja, bukan cuma menelan pil obat.

Kita tidak dapat memisahkan antara tubuh fisik, tubuh mental, dan aspek yang lainnya. Itu sama saja dengan memisahkan individu dari lingkungannya, kita tidak dapat melakukan hal tersebut. Karena semuanya saling berkaitan, saling mempengaruhi. Artinya ketika tubuh mengalami sakit, kita juga perlu memperhatikan aspek emosi.

Banyak orang tidak menyadari bahwa dia memendam emosi, karena memang selama ini emosinya selalu ditekan, emosinya didorong ke bawah dan akhirnya menjadi rata, terlihat rata sehingga dianggap tidak ada apa-apa. Padahal emosinya masih tetap ada di situ.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Takut dan Tidak Sedih

  “Kami berfirman, “Turunlah kalian semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (QS. Al-Baqoroh: 38) Lawan kata dari “takut” dalam Bahasa Indonesia adalah berani, tegas, tenang, percaya diri, atau tidak takut. Lawan kata dari “sedih” dalam Bahasa Indonesia adalah senang, riang, bahagia, sumringah, ria, bungah, ceria, atau bangga. Kata-kata ini memiliki arti yang menunjukkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan, atau kegembiraan yang kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada ALLOH dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 62) “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLOH, dan dia berbuat baik, di...

Jalan yang Lurus

  “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (QS. Ghofir: 60) Sesungguhnya ALLOH selalu mengabulkan doa kita. Hanya saja kita yang sering tidak menyadarinya. Atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah berdoa. Ada sebuah doa yang selalu kita ulang setiap hari di dalam sholat. Tapi kita juga sering tidak menyadari bahwa kita telah berdoa meminta hal tersebut. Pada akhirnya kita tidak menanti-nanti terkabulnya doa tersebut. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”  (QS. Al-Fathihah: 6-7) Di setiap sholat kita berdoa kepada ALLOH agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh ALLOH. Siapakah mereka? “Dan barang siapa menaati ALLOH dan Ros...

Semua Manusia Itu Baik

Dulu aku mengira semua orang di dunia ini baik. Dan ternyata memang semua orang itu baik. tapi ada yang baiknya itu level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Ada juga yang baiknya itu level 0, level -1, level -2, level -3, dan seterusnya, he he he. Tapi semua orang itu memang baik kok karena seburuk-buruknya orang pasti ada kebaikannya dan sebaik-baiknya orang juga pasti ada keburukannya. Tidak ada yang bisa sempurna bukan? Namun seringkali kita lebih mudah untuk melihat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Bahkan sampai terucap kalimat yang menghakimi seperti “Diaa itu memang sudah ga bisa berubah, kaya gitu terus dari dulu ga pernah bisa jadi baik.” padahal selama masih hidup di dunia masih ada peluang untuk berubah menjadi lebih baik. Apa yang difokuskan oleh pikiran maka itulah yang kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Ketika ada orang yang terlihat begitu sulit untuk berubah menjadi lebih baik, jangan-jangan ada peran kita di situ. Gara-gara kita berpikir bahwa orang ...