Langsung ke konten utama

Emosi dan Penyakit (Bagian 2)

Karena stres itu adalah disebabkan oleh emosi yang ditekan, maka untuk mengobati stres kita perlu melakukan sebaliknya. Stres disembuhkan dengan cara tidak menekan emosi, emosi  yang muncul hanya perlu diekspresikan, agar bisa mengalir dan akhirnya hilang.

Apa yang terjadi ketika emosi yang selama ini ditekan sampai menjadi rata, lalu tiba-tiba diberi kesempatan untuk diekspresikan? Oh yeah, terjadi ledakan.

Oleh karena itu kita perlu belajar untuk lebih berkasih sayang kepada diri sendiri, kita berikan kesempatan kepada emosi yang selama ini terpendam mengalir dengan perlahan. Tidak harus langsung dibuang semuanya, karena mengalirkan emosi itu juga memerlukan energi.

Kita perlu sabar menghadapi diri sendiri, tidak perlu buru-buru ingin segera sembuh, selalu ada tahapan yang harus dilewati.

Yang perlu kita lakukan ketika emosi muncul adalah menyadari bahwa memang ada emosi, lalu mengakui bahwa itu ada di dalam tubuh kita, kemudian rasakan saja, bersikaplah lembut kepada diri sendiri, biarkan emosi itu mengalir secara perlahan, kita fokus saja merasakannya, tapi tidak mendramatisir, tidak playing victim yang akhirnya membuat emosinya semakin kuat.

Cukup rasakan dan biarkan mengalir sampai menghilang.

Jangan berekspektasi terlalu tinggi pada diri sendiri. Jangan berharap bahwa dalam sekali praktek langsung hilang emosinya. Bayangkan saja, selama ini kita terbiasa menekan emosi, lalu apakah tiba-tiba dalam sekejap kita bisa menjadi ahli merasakan dan mengalirkan emosi?

Sabar dong. Ikuti step by stepnya, pelan-pelan, dan harus berlatih terus sampai akhirnya kebiasaan menekan emosi berubah menjadi kebiasaan merasakan dan mengalirkan emosi dengan aman dan nyaman.

Sebagian orang membuat lelucon dengan mengatakan bahwa obat stres itu cuma uang, stres bisa sembuh kalau punya uang yang banyak.

Tidak bisa dipungkiri bahwa jika kita tidak punya uang maka itu bisa menyebabkan stres. Tapi uang tidaklah menyembuhkan stres, yang terjadi sebenarnya adalah uang bisa membuat kita lupa dengan stres untuk sementara waktu. Stresnya masih ada, tidak hilang, kita hanya melupakannya sebentar, kabur dari kenyataan.

Kita bisa jalan-jalan, berbelanja, makan di restoran mahal, semuanya perlu uang. Tapi apakah setelah semua itu terlewati kemudian stresnya menghilang?

Tidak, ketika kembali ke rutinitas sehari-hari tiba-tiba stresnya muncul lagi, karena memang belum hilang, hanya kita lupakan untuk sementara waktu ketika kita jalan-jalan, berbelanja, atau pun makan di restoran mahal.

Ada yang menarik menurutku, ketika kita tidak punya uang maka bisa menyebabkan stres, itu bagaimana alurnya?

Ingat kembali bahwa stres itu terjadi ketika kita menekan emosi, kita tidak merasakan dan mengalirkan emosi. Dan agar tidak terjadi stres maka kita perlu merasakan dan mengalirkan emosi. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara kita merasakan dan mengalirkan emosi.

Apa yang biasanya menjadi respon kita ketika tidak punya uang? Sedih, takut, cemas, panik, dan yang lainnya. Kemudian apakah kita benar-benar sudah merasakan semuanya itu? Atau buru-buru berpikir bagaimana cara mengatasinya, bagaimana cara agar kita segera bisa mendapatkan uang?

Silahkan dibayangkan sendiri seperti apa rasanya ketika kita langsung mencoba berpikir untuk mencari solusi. Bukankah itu akan membuat emosi yang muncul tadi tidak berhasil mengalir? Lagi-lagi emosinya menjadi ditekan. Dan akhirnya kondisi tidak punya uang pun bisa menyebabkan stres.

Coba bandingkan dengan orang yang menyikapi kondisi tidak punya uang dengan langsung bersabar dan bersyukur. Dengan bersabar maka dia memberikan waktu kepada dirinya untuk merasakan emosi yang muncul, dan dengan bersyukur akan memberikan energi positif yang membuat emosinya menjadi lebih ringan untuk dialirkan.

Mengalirkan emosi itu perlu energi bukan? Kenapa harus bersabar dan bersyukur? Karena seperti itulah sikap seorang mukmin dalam menghadapi setiap keadaan. Dan hanya orang mukmin yang mendapatkan kebahagiaan. Kalau stres itu bahagia apa tidak? Tentu saja tidak bukan?

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

“Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk orang yang bertaubat kepada-Nya.” (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. Ar-Ra’d: 27-29)

Siapa yang akan mendapatkan kebahagiaan (tidak stres)? Yaitu orang yang beriman dan mereka mengerjakan kebajikan.

Bagaimana cara orang beriman agar hatinya menjadi tenteram (tidak stres)? Yaitu dengan selalu mengingat Allah.

Lalu apa yang perlu dilakukan agar kita bisa menjadi orang yang beriman dan mendapatkan petunjuk dari Allah? Dengan kita bertaubat kepada Allah.

Dan apa yang akan terjadi ketika kita telah benar-benar berhasil menjadi orang yang beriman? Kita akan mampu menghadapi semua kondisi dengan sabar dan syukur. Dengan bersabar kita bisa memberi waktu kepada diri sendiri untuk merasakan emosi, dan dengan bersyukur kita bisa mengalirkan emosi dengan lebih ringan.

Sehingga kita tidak stres lagi, stresnya sembuh, maka penyakit di tubuh fisik pun sembuh.

Jadi dari penjelasan yang panjang tadi bisa kita simpulkan bahwa agar kita dapat merasakan dan mengalirkan emosi sehingga kita tidak menjadi stres, dimana stres dapat menyebabkan tubuh kita sakit, maka kita harus menjadi orang yang beriman.

Agar bisa menjadi orang yang beriman maka dimulai dari bertaubat kepada Allah. Kenapa sih ujung-ujungnya selalu kembali kepada Allah?

“Dan milik Allah lah kerajaan langit dan bumi, dan hanya kepada Allah lah kembali (seluruh makhluk).” (QS. An-Nur: 42)

Jika stres sembuh maka penyakit di tubuh fisik pun sembuh. Stres bisa sembuh dengan menjadi orang yang beriman. Kita bisa menjadi orang yang beriman dimulai dengan bertaubat kepada Allah. Itu berarti bahwa agar stres kita sembuh dimulai dengan bertaubat kepada Allah.

Dan itu berarti bahwa agar penyakit di tubuh fisik kita sembuh dimulai dengan bertaubat kepada Allah. Artinya yang perlu kita lakukan pertama kali ketika sakit adalah bertaubat kepada Allah.

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Bagaimana agar Allah memaafkan kita? Dengan kita bertaubat kepada-Nya.

Panjang banget ya, he he he. Yah begitulah, seringkali memang perlu berputar-putar dulu baru bisa memahami. Padahal sudah disebutkan dengan sangat jelas di Al-Qur’an dan hadits, tapi kebanyakan kita memang sulit untuk memahami.

Allah memberi pemahaman kepada siapa yang Dia kehendaki. Kita bisa tahu ilmu dan bisa memahaminya jika Allah menghendaki.

Dan seringkali Allah baru menghendaki untuk memberikan pemahaman kepada kita setelah kita berputar-putar dulu. Qodarullooh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Takut dan Tidak Sedih

  “Kami berfirman, “Turunlah kalian semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (QS. Al-Baqoroh: 38) Lawan kata dari “takut” dalam Bahasa Indonesia adalah berani, tegas, tenang, percaya diri, atau tidak takut. Lawan kata dari “sedih” dalam Bahasa Indonesia adalah senang, riang, bahagia, sumringah, ria, bungah, ceria, atau bangga. Kata-kata ini memiliki arti yang menunjukkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan, atau kegembiraan yang kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada ALLOH dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 62) “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLOH, dan dia berbuat baik, di...

Jalan yang Lurus

  “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (QS. Ghofir: 60) Sesungguhnya ALLOH selalu mengabulkan doa kita. Hanya saja kita yang sering tidak menyadarinya. Atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah berdoa. Ada sebuah doa yang selalu kita ulang setiap hari di dalam sholat. Tapi kita juga sering tidak menyadari bahwa kita telah berdoa meminta hal tersebut. Pada akhirnya kita tidak menanti-nanti terkabulnya doa tersebut. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”  (QS. Al-Fathihah: 6-7) Di setiap sholat kita berdoa kepada ALLOH agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh ALLOH. Siapakah mereka? “Dan barang siapa menaati ALLOH dan Ros...

Semua Manusia Itu Baik

Dulu aku mengira semua orang di dunia ini baik. Dan ternyata memang semua orang itu baik. tapi ada yang baiknya itu level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Ada juga yang baiknya itu level 0, level -1, level -2, level -3, dan seterusnya, he he he. Tapi semua orang itu memang baik kok karena seburuk-buruknya orang pasti ada kebaikannya dan sebaik-baiknya orang juga pasti ada keburukannya. Tidak ada yang bisa sempurna bukan? Namun seringkali kita lebih mudah untuk melihat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Bahkan sampai terucap kalimat yang menghakimi seperti “Diaa itu memang sudah ga bisa berubah, kaya gitu terus dari dulu ga pernah bisa jadi baik.” padahal selama masih hidup di dunia masih ada peluang untuk berubah menjadi lebih baik. Apa yang difokuskan oleh pikiran maka itulah yang kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Ketika ada orang yang terlihat begitu sulit untuk berubah menjadi lebih baik, jangan-jangan ada peran kita di situ. Gara-gara kita berpikir bahwa orang ...