Langsung ke konten utama

Maskulin dan Feminin (Bagian 1)

 “Perempuan juga pusing mikirin masa depannya, karena mindsetnya bukan mau numpang hidup doang, soalnya laki-laki itu titipan, kalau ga diambil wanita lain ya diambil Tuhan.”

Kata-kata tersebut pernah aku baca di status whatsapp salah satu temanku yang masih lajang. Dia masih muda dan tentu saja aku tergerak untuk meluruskan mindsetnya yang mungkin sudah terpengaruh oleh kata-kata tesebut. Aku mencoba menjelaskan kepadanya tentang energi maskulin dan feminin serta kaitannya dengan kehidupan rumah tangga.

Di dalam diri setiap manusia ada energi maskulin dan feminin. Namun secara fitrah laki-laki diciptakan memiliki energi maskulin yang lebih dominan dan wanita memiliki energi feminin yang lebih dominan.

Apabila manusia menjauh dari fitrahnya maka yang terjadi adalah ketidakbahagiaan. Rasa tidak bahagia ini muncul sebagai akibat dari energi maskulin dan feminin yang tidak seimbang di dalam dirinya.

Di dalam pernikahan, ketidakseimbangan energi maskulin dan feminin akan mewujudkan beberapa hal yang tidak menyenangkan seperti rasa tidak aman, rasa tidak percaya, kebosanan, hilangnya gairah, posesif, penuh tuntutan dan kekecewaan yang berujung pada konflik. Padahal kondisi pasangan adalah pantulan dari apa yang ada di dalam diri kita sendiri.

Yang aku tulis ini adalah rangkuman dari kelas online yang pernah aku ikuti. Judul kelasnya adalah Love and Relationship, materinya lebih banyak membahas tentang hubungan suami istri di dalam rumah tangga, bagaimana agar tetap harmonis, saling memahami bukan saling menyalahkan.

Dalam sebuah hubungan, jika salah satu menjadi terlalu maskulin, maka pasangan akan mengimbanginya dengan menjadi lebih feminin. Keseimbangan dalam diri akan membawa keseimbangan dalam pernikahan secara natural.

Ketidakseimbangan energi maskulin dan feminin juga bisa berdampak pada masalah finansial. Ini nih yang sering tidak disadari oleh banyak orang.

Seorang istri yang menjadi terlalu maskulin akan menyebabkan suaminya lebih feminin. Wanita yang terlalu maskulin itu seperti apa sih? Kebanyakan mikir, suka mengatur, selalu berusaha mengendalikan situasi atau orang lain, mengerjakan terlalu banyak perkerjaan sendirian, kaku, menuntut kesempurnaan pada diri sendiri dan orang lain.

Apakah kamu wanita yang maskulin? Lihatlah suamimu, apakah dia menjadi lebih feminin?

Energi maskulin dan feminin juga dipengaruhi oleh hormon. Ada yang namanya hormon disruptor yaitu zat kimia yang dapat mengganggu fungsi hormon alami dalam tubuh.

Apa saja contohnya? Rokok, produk pembersih yang mengandung banyak bahan kimia berbau tajam (pembersih lantai, pewangi, sabun, sampo, dan lain-lain), makanan dan minuman dengan kandungan gula yang tinggi.

UPF (makanan yang diproses sangat panjang) dengan banyak bahan tambahan seperti penyedap, pewarna, perisa, pengawet, kemudian sayuran dan buah-buahan berpestisida, paparan sinar biru dari lampu dan gadget, dan radiasi gelombang elektromagnetik.

Semuanya itu dapat mengganggu fungsi hormon dan menyebabkan ketidakseimbangan energi maskulin dan feminin.

Karena aku sendiri wanita dan kebanyakan teman-temanku juga wanita, maka di sini aku akan lebih menekankan kepada apa yang bisa dilakukan oleh wanita. Bukan berarti aku menyalahkan wanita atau membela laki-laki ya.

Tapi karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain, kita hanya bisa mengendalikan diri sendiri, yang bisa kita ubah hanyalah diri kita sendiri.

Niatkan diri untuk membuka hati, bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Menyadari bahwa semua musibah adalah akibat dari perbuatan dosa kita sendiri, tidak sibuk menyalahkan orang lain.

Memulai perubahan bukan untuk memanipulasi atau mengubah suami menjadi sosok laki-laki yang kita inginkan, melainkan untuk melihat potensi tertinggi dalam diri kita sendiri dan kehidupan.

Yakinkan diri bahwa pernikahan yang setia, bahagia, dan penuh cinta adalah konsekuensi alami dari menjalani kehidupan yang selaras dengan syariat agama. Jadi yang perlu diupayakan adalah perbaikan diri sendiri dengan memperbaiki agama.

Agama itu bukan cuma ritual ibadah, agama itu meliputi seluruh aspek dalam kehidupan kita. Sebelum beramal kita harus berilmu dulu. Agar amal yang dilakukan tidak ngasal atau sia-sia karena banyak kesalahan.

Seperti apa keseimbangan dan keselarasan yang ingin kita rasakan dalam hubungan rumah tangga? “Saya ingin merasa… (dilihat, didengar, dirawat, diperlakukan dengan penuh rasa hormat).” “Saya ingin… (dibantu, diperlakukan dengan kasih sayang, merasa berharga dalam hubungan).”

Pastikan kita memenuhi semua hal di atas untuk diri sendiri sebelum mengharapkan pasangan untuk memenuhinya.

Berusahalah untuk selalu berpikir positif dan buatlah keputusan dengan keyakinan bahwa kita layak untuk dicintai dan diperlakukan dengan hormat. Agar bisa menjadi lembut di luar, kita harus merasa kuat di dalam yaitu dengan memperbaiki iman dan takwa.

Untuk mampu percaya pada suami, kita harus membangun kepercayaan kepada ALLOH dan pada diri sendiri. Keseimbangan adalah kunci kekuatan.

Perlakukan diri sendiri dengan cinta dan hormat terlebih dahulu sehingga kita mampu memberi dan menerima hal yang sama dalam pernikahan.

Selalu libatkan ALLOH dalam setiap perkataan, perbuatan, dan keputusan yang diambil. Lakukan apa yang kita mampu dan serahkan semuanya kepada ALLOH.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Takut dan Tidak Sedih

  “Kami berfirman, “Turunlah kalian semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (QS. Al-Baqoroh: 38) Lawan kata dari “takut” dalam Bahasa Indonesia adalah berani, tegas, tenang, percaya diri, atau tidak takut. Lawan kata dari “sedih” dalam Bahasa Indonesia adalah senang, riang, bahagia, sumringah, ria, bungah, ceria, atau bangga. Kata-kata ini memiliki arti yang menunjukkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan, atau kegembiraan yang kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada ALLOH dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 62) “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLOH, dan dia berbuat baik, di...

Jalan yang Lurus

  “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (QS. Ghofir: 60) Sesungguhnya ALLOH selalu mengabulkan doa kita. Hanya saja kita yang sering tidak menyadarinya. Atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah berdoa. Ada sebuah doa yang selalu kita ulang setiap hari di dalam sholat. Tapi kita juga sering tidak menyadari bahwa kita telah berdoa meminta hal tersebut. Pada akhirnya kita tidak menanti-nanti terkabulnya doa tersebut. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”  (QS. Al-Fathihah: 6-7) Di setiap sholat kita berdoa kepada ALLOH agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh ALLOH. Siapakah mereka? “Dan barang siapa menaati ALLOH dan Ros...

Semua Manusia Itu Baik

Dulu aku mengira semua orang di dunia ini baik. Dan ternyata memang semua orang itu baik. tapi ada yang baiknya itu level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Ada juga yang baiknya itu level 0, level -1, level -2, level -3, dan seterusnya, he he he. Tapi semua orang itu memang baik kok karena seburuk-buruknya orang pasti ada kebaikannya dan sebaik-baiknya orang juga pasti ada keburukannya. Tidak ada yang bisa sempurna bukan? Namun seringkali kita lebih mudah untuk melihat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Bahkan sampai terucap kalimat yang menghakimi seperti “Diaa itu memang sudah ga bisa berubah, kaya gitu terus dari dulu ga pernah bisa jadi baik.” padahal selama masih hidup di dunia masih ada peluang untuk berubah menjadi lebih baik. Apa yang difokuskan oleh pikiran maka itulah yang kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Ketika ada orang yang terlihat begitu sulit untuk berubah menjadi lebih baik, jangan-jangan ada peran kita di situ. Gara-gara kita berpikir bahwa orang ...