“Perempuan juga pusing mikirin masa depannya, karena mindsetnya bukan mau numpang hidup doang, soalnya laki-laki itu titipan, kalau ga diambil wanita lain ya diambil Tuhan.”
Kata-kata tersebut pernah aku baca di status whatsapp salah satu temanku yang masih lajang. Dia masih muda dan tentu saja aku tergerak untuk meluruskan mindsetnya yang mungkin sudah terpengaruh oleh kata-kata tesebut. Aku mencoba menjelaskan kepadanya tentang energi maskulin dan feminin serta kaitannya dengan kehidupan rumah tangga.
Di dalam diri setiap manusia ada energi maskulin dan feminin. Namun secara fitrah laki-laki diciptakan memiliki energi maskulin yang lebih dominan dan wanita memiliki energi feminin yang lebih dominan.
Apabila manusia menjauh dari fitrahnya maka yang terjadi adalah ketidakbahagiaan. Rasa tidak bahagia ini muncul sebagai akibat dari energi maskulin dan feminin yang tidak seimbang di dalam dirinya.
Di dalam pernikahan, ketidakseimbangan energi maskulin dan feminin akan mewujudkan beberapa hal yang tidak menyenangkan seperti rasa tidak aman, rasa tidak percaya, kebosanan, hilangnya gairah, posesif, penuh tuntutan dan kekecewaan yang berujung pada konflik. Padahal kondisi pasangan adalah pantulan dari apa yang ada di dalam diri kita sendiri.
Yang aku tulis ini adalah rangkuman dari kelas online yang pernah aku ikuti. Judul kelasnya adalah Love and Relationship, materinya lebih banyak membahas tentang hubungan suami istri di dalam rumah tangga, bagaimana agar tetap harmonis, saling memahami bukan saling menyalahkan.
Dalam sebuah hubungan, jika salah satu menjadi terlalu maskulin, maka pasangan akan mengimbanginya dengan menjadi lebih feminin. Keseimbangan dalam diri akan membawa keseimbangan dalam pernikahan secara natural.
Ketidakseimbangan energi maskulin dan feminin juga bisa berdampak pada masalah finansial. Ini nih yang sering tidak disadari oleh banyak orang.
Seorang istri yang menjadi terlalu maskulin akan menyebabkan suaminya lebih feminin. Wanita yang terlalu maskulin itu seperti apa sih? Kebanyakan mikir, suka mengatur, selalu berusaha mengendalikan situasi atau orang lain, mengerjakan terlalu banyak perkerjaan sendirian, kaku, menuntut kesempurnaan pada diri sendiri dan orang lain.
Apakah kamu wanita yang maskulin? Lihatlah suamimu, apakah dia menjadi lebih feminin?
Energi maskulin dan feminin juga dipengaruhi oleh hormon. Ada yang namanya hormon disruptor yaitu zat kimia yang dapat mengganggu fungsi hormon alami dalam tubuh.
Apa saja contohnya? Rokok, produk pembersih yang mengandung banyak bahan kimia berbau tajam (pembersih lantai, pewangi, sabun, sampo, dan lain-lain), makanan dan minuman dengan kandungan gula yang tinggi.
UPF (makanan yang diproses sangat panjang) dengan banyak bahan tambahan seperti penyedap, pewarna, perisa, pengawet, kemudian sayuran dan buah-buahan berpestisida, paparan sinar biru dari lampu dan gadget, dan radiasi gelombang elektromagnetik.
Semuanya itu dapat mengganggu fungsi hormon dan menyebabkan ketidakseimbangan energi maskulin dan feminin.
Karena aku sendiri wanita dan kebanyakan teman-temanku juga wanita, maka di sini aku akan lebih menekankan kepada apa yang bisa dilakukan oleh wanita. Bukan berarti aku menyalahkan wanita atau membela laki-laki ya.
Tapi karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain, kita hanya bisa mengendalikan diri sendiri, yang bisa kita ubah hanyalah diri kita sendiri.
Niatkan diri untuk membuka hati, bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Menyadari bahwa semua musibah adalah akibat dari perbuatan dosa kita sendiri, tidak sibuk menyalahkan orang lain.
Memulai perubahan bukan untuk memanipulasi atau mengubah suami menjadi sosok laki-laki yang kita inginkan, melainkan untuk melihat potensi tertinggi dalam diri kita sendiri dan kehidupan.
Yakinkan diri bahwa pernikahan yang setia, bahagia, dan penuh cinta adalah konsekuensi alami dari menjalani kehidupan yang selaras dengan syariat agama. Jadi yang perlu diupayakan adalah perbaikan diri sendiri dengan memperbaiki agama.
Agama itu bukan cuma ritual ibadah, agama itu meliputi seluruh aspek dalam kehidupan kita. Sebelum beramal kita harus berilmu dulu. Agar amal yang dilakukan tidak ngasal atau sia-sia karena banyak kesalahan.
Seperti apa keseimbangan dan keselarasan yang ingin kita rasakan dalam hubungan rumah tangga? “Saya ingin merasa… (dilihat, didengar, dirawat, diperlakukan dengan penuh rasa hormat).” “Saya ingin… (dibantu, diperlakukan dengan kasih sayang, merasa berharga dalam hubungan).”
Pastikan kita memenuhi semua hal di atas untuk diri sendiri sebelum mengharapkan pasangan untuk memenuhinya.
Berusahalah untuk selalu berpikir positif dan buatlah keputusan dengan keyakinan bahwa kita layak untuk dicintai dan diperlakukan dengan hormat. Agar bisa menjadi lembut di luar, kita harus merasa kuat di dalam yaitu dengan memperbaiki iman dan takwa.
Untuk mampu percaya pada suami, kita harus membangun kepercayaan kepada ALLOH dan pada diri sendiri. Keseimbangan adalah kunci kekuatan.
Perlakukan diri sendiri dengan cinta dan hormat terlebih dahulu sehingga kita mampu memberi dan menerima hal yang sama dalam pernikahan.
Selalu libatkan ALLOH dalam setiap perkataan, perbuatan, dan keputusan yang diambil. Lakukan apa yang kita mampu dan serahkan semuanya kepada ALLOH.
Komentar
Posting Komentar