Langsung ke konten utama

Maskulin dan Feminin (Bagian 2)

Seorang wanita yang memiliki peran sebagai istri harus meluangkan waktu untuk merawat dirinya sendiri. Karena suami tidak jatuh cinta karena penilaiannya terhadap istrinya, namun PERASAANNYA saat bersama dengan istrinya.

Hai… hai… hallooo… siapa yang suaminya ga betah di rumah? Siapa yang suaminya suka ngelayap sendirian keluar rumah? Itu karena istrinya ga punya aura positif, karena istrinya punya banyak penyakit hati. Siapa sih yang suka dekat-dekat sama orang yang auranya negatif?

Suami ga suka dekat-dekat sama istrinya karena si istri auranya negatif, gara-gara ga suka merawat diri. Biasanya si istri akan beralasan sibuk mengurus anak dan rumah sehingga tidak sempat merawat diri sendiri. Nah itu dia yang disebut mencari kambing hitam, tidak bertanggung jawab terhadap diri sendiri, selalu menyalahkan orang lain.

Sebagian besar wanita merasa insecure (tidak aman), merasa tidak layak menerima haknya sebagai istri, merasa berhutang jika diberi oleh suami. Dan tanpa sadar muncul amarah di dalam hati akibat dari haknya sebagai istri yang tidak dipenuhi. Sehingga suami belajar bahwa istrinya tidak menghargai diri sendiri.

Lalu suami pun menjauh, dingin, ketus, dan bersikap buruk. Sikapnya menjadi cermin bagi amarah dan ketidakpuasan istri dalam hidup. Suami merasa tidak aman untuk memberi, berbagi, dan mencintai istrinya. Kalau kedua belah pihak tidak ada yang menyadari dan tetap bertahan di kondisi seperti itu, maka pernikahan akan terasa seperti neraka, iya apa engga tuh?

Kepedulian dan cinta suami kepada istri adalah pantulan dari kepedulian dan cinta istri kepada dirinya sendiri. Lalu bagaimana wujud peduli pada diri sendiri? Bagaimana bentuk merawat diri sendiri? Silahkan lihat cermin, apa yang kau lihat wahai wanita? Apakah sosok yang di cermin itu terlihat bahagia? Atau justru sangat memprihatinkan? Bagaimana perlakuanmu padanya selama ini?

Bertanggung jawablah terhadap dirimu sendiri! Jangan berharap orang lain akan peduli pada dirimu jika kau tidak peduli pada dirimu sendiri. Rawat tubuhmu sendiri, sisir rambutmu yang kusut, penuhi nutrisi dari makanan bergizi, jangan merusak tubuh dengan kopi dan apa pun itu.

Pakailah baju yang ketika memakainya kau merasa cantik, berhiaslah meskipun hanya di rumah saja. Bukankah justru wanita dibolehkan berhias hanya saat di rumah?

Merawat diri adalah dengan menjaga diri agar terhindar dari perbuatan dosa. Merawat diri adalah dengan menjalankan perintah ALLOH. Merawat diri adalah dengan menjadi orang beriman yang selalu bersabar dan bersyukur.

Merawat diri adalah dengan menerima diri apa adanya kemudian berusaha untuk memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya. Ridho, ikhlas, tawakal.

Aku sering dicurhatin sama teman-teman tentang kehidupan rumah tangga mereka. Aku sampaikan informasi yang sama kepada mereka, ada yang langsung praktek dan merasakan perubahan baik.

Tapi ada juga yang sepertinya tidak peduli, terlihat dari masalah hidupnya yang tak kunjung bertemu solusi. Sukanya cuma mengeluh minta diperhatikan, padahal tidak ada orang yang sanggup memperhatikan kita jika kita belum mau memperhatikan diri kita sendiri.

Bangun keberanian untuk jujur kepada diri tentang apa yang sebenarnya kita inginkan. Nikmati momen merenungi kehidupan dan introspeksi diri untuk menelusuri kemungkinan-kemungkinan terbaik yang bisa kita jalani di kehidupan ini dengan bimbingan, cinta kasih, dan kesejahteraan yang berlimpah dari ALLOH.

Berpikir positif, berprasangka baik kepada ALLOH, hindari overthinking membayangkan hal buruk yang belum terjadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Takut dan Tidak Sedih

  “Kami berfirman, “Turunlah kalian semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (QS. Al-Baqoroh: 38) Lawan kata dari “takut” dalam Bahasa Indonesia adalah berani, tegas, tenang, percaya diri, atau tidak takut. Lawan kata dari “sedih” dalam Bahasa Indonesia adalah senang, riang, bahagia, sumringah, ria, bungah, ceria, atau bangga. Kata-kata ini memiliki arti yang menunjukkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan, atau kegembiraan yang kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada ALLOH dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 62) “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLOH, dan dia berbuat baik, di...

Jalan yang Lurus

  “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (QS. Ghofir: 60) Sesungguhnya ALLOH selalu mengabulkan doa kita. Hanya saja kita yang sering tidak menyadarinya. Atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah berdoa. Ada sebuah doa yang selalu kita ulang setiap hari di dalam sholat. Tapi kita juga sering tidak menyadari bahwa kita telah berdoa meminta hal tersebut. Pada akhirnya kita tidak menanti-nanti terkabulnya doa tersebut. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”  (QS. Al-Fathihah: 6-7) Di setiap sholat kita berdoa kepada ALLOH agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh ALLOH. Siapakah mereka? “Dan barang siapa menaati ALLOH dan Ros...

Semua Manusia Itu Baik

Dulu aku mengira semua orang di dunia ini baik. Dan ternyata memang semua orang itu baik. tapi ada yang baiknya itu level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Ada juga yang baiknya itu level 0, level -1, level -2, level -3, dan seterusnya, he he he. Tapi semua orang itu memang baik kok karena seburuk-buruknya orang pasti ada kebaikannya dan sebaik-baiknya orang juga pasti ada keburukannya. Tidak ada yang bisa sempurna bukan? Namun seringkali kita lebih mudah untuk melihat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Bahkan sampai terucap kalimat yang menghakimi seperti “Diaa itu memang sudah ga bisa berubah, kaya gitu terus dari dulu ga pernah bisa jadi baik.” padahal selama masih hidup di dunia masih ada peluang untuk berubah menjadi lebih baik. Apa yang difokuskan oleh pikiran maka itulah yang kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Ketika ada orang yang terlihat begitu sulit untuk berubah menjadi lebih baik, jangan-jangan ada peran kita di situ. Gara-gara kita berpikir bahwa orang ...