Langsung ke konten utama

Rasa Sakit Adalah Sensasi yang Terperangkap (Bagian 2)

Lalu bagaimana agar kita bisa keluar dari respon membeku? Kita perlu membangun koneksi dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Apakah setelah berhasil keluar dari respon membeku kemudian semuanya selesai?

Oh tentu tidak, kita perlu ingat kembali bagaimana tahapan mode bertahan itu muncul. Diawali dengan adanya ancaman, kemudian muncul respon melawan atau kabur, jika tidak berhasil melakukannya maka respon membeku akan aktif.

Untuk mengembalikan ke kondisi yang normal artinya kita seperti berjalan mundur. Pertama, keluar dulu dari respon membeku menuju respon melawan atau kabur, kemudian menghadapi respon melawan atau kabur tersebut hingga kembali ke kondisi aman tidak ada ancaman.

Respon membeku tidak menghilangkan rasa sakit, ia hanya membuat kita mati rasa, rasa sakitnya masih ada dan tersimpan di dalam tubuh. Rasa sakit ini adalah sensasi dari respon melawan dan kabur yang terperangkap di dalam tubuh, mereka meminta untuk dikeluarkan.

Kita perlu membangun koneksi dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan agar bisa keluar dari respon membeku, menuju ke respon melawan atau kabur, tahapannya harus seperti ini, tidak bisa dilompati.

Dan apa yang terjadi pada tubuh di saat muncul respon melawan atau kabur? Oh yeah, tubuh dibanjiri hormon stres. Di sinilah bagian yang terpenting, apakah kita akan berani menghadapinya atau justru kembali mengaktifkan respon membeku?

Jika kita tidak mampu mengatasi banjir hormon stres tersebut, ya sudahlah balik lagi ke respon membeku, jadinya mbulet kaya balon, he he he. Kalau mau  cepat bisa sih, letusin saja balonnya dan jadinya meledak.

Tapi itu pasti rasanya sangat menyakitkan dan bisa menimbulkan trauma baru lagi, yang pada akhirnya mbulet lagi. Seperti anak yang nangis karena balonnya meletus, terus dibelikan balon lagi.

Sebagian besar manusia modern hidup dengan tubuh yang terus-menerus berada di mode bertahan. Tubuhnya membeku dan masih menyimpan rasa sakit akibat hormon stres berlebih, akibatnya kinerja tubuh menurun, baik itu metabolisme yang menurun, gangguan pada sistem pencernaan, sistem pernafasan, sistem reproduksi, dan lain-lain.

Orang tua yang hidup dengan tubuh berada di mode bertahan tidak akan pernah dapat memberikan rasa aman kepada anak-anaknya. Akibatnya anak-anak pun akan mengulangi skenario yang sama dengan orang tuanya, yaitu tubuhnya mengaktifkan mode bertahan.

Ada banyak sekali upaya yang dilakukan oleh orang untuk mendapatkan tubuh yang sehat, seperti menjaga pola makan, olahraga teratur, mengendalikan emosi, dan lain-lain. Namun ketika tubuh masih berada di mode bertahan maka seringkali beragam upaya yang telah dikerahkan tidak membuahkan hasil yang diharapkan.

Tubuh terus-menerus berada di mode bertahan sebagai akibat dari rasa tidak aman, merasa masih ada ancaman seperti pengalaman yang terjadi di masa lalu, meskipun di masa sekarang kondisinya aman dan sudah tidak ada ancaman.

Makanya kan kita sering mendapati ada beberapa orang yang terlihat begitu menjaga pola makan, olahraga teratur, dan pandai mengendalikan emosi, namun tiba-tiba didiagnosa menderita penyakit parah. Karena ternyata di dalam tubuhnya tersimpan banyak sekali respon melawan dan kabur yang terperangkap.

Dan kalau kita perhatikan bahwa efek dari respon membeku itu hampir mirip dengan emosi yang terkendali. Orang yang tidak marah tidak selalu berarti sabar bukan? Orang yang mati rasa sebagai akibat dari respon membeku, orang yang seperti ini juga tidak bisa marah.

Tubuh kita perlu dilatih agar bisa menghadapi respon melawan atau kabur agar tidak terus-menerus berlanjut ke respon membeku. Sehingga banjir hormon stres bisa kita arungi sampai akhirnya mereda secara perlahan dan kita kembali merasa aman tidak ada lagi ancaman.

Kita perlu membangun kapasitas tubuh untuk bisa benar-benar keluar dari mode bertahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Takut dan Tidak Sedih

  “Kami berfirman, “Turunlah kalian semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (QS. Al-Baqoroh: 38) Lawan kata dari “takut” dalam Bahasa Indonesia adalah berani, tegas, tenang, percaya diri, atau tidak takut. Lawan kata dari “sedih” dalam Bahasa Indonesia adalah senang, riang, bahagia, sumringah, ria, bungah, ceria, atau bangga. Kata-kata ini memiliki arti yang menunjukkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan, atau kegembiraan yang kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada ALLOH dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 62) “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLOH, dan dia berbuat baik, di...

Jalan yang Lurus

  “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (QS. Ghofir: 60) Sesungguhnya ALLOH selalu mengabulkan doa kita. Hanya saja kita yang sering tidak menyadarinya. Atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah berdoa. Ada sebuah doa yang selalu kita ulang setiap hari di dalam sholat. Tapi kita juga sering tidak menyadari bahwa kita telah berdoa meminta hal tersebut. Pada akhirnya kita tidak menanti-nanti terkabulnya doa tersebut. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”  (QS. Al-Fathihah: 6-7) Di setiap sholat kita berdoa kepada ALLOH agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh ALLOH. Siapakah mereka? “Dan barang siapa menaati ALLOH dan Ros...

Semua Manusia Itu Baik

Dulu aku mengira semua orang di dunia ini baik. Dan ternyata memang semua orang itu baik. tapi ada yang baiknya itu level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Ada juga yang baiknya itu level 0, level -1, level -2, level -3, dan seterusnya, he he he. Tapi semua orang itu memang baik kok karena seburuk-buruknya orang pasti ada kebaikannya dan sebaik-baiknya orang juga pasti ada keburukannya. Tidak ada yang bisa sempurna bukan? Namun seringkali kita lebih mudah untuk melihat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Bahkan sampai terucap kalimat yang menghakimi seperti “Diaa itu memang sudah ga bisa berubah, kaya gitu terus dari dulu ga pernah bisa jadi baik.” padahal selama masih hidup di dunia masih ada peluang untuk berubah menjadi lebih baik. Apa yang difokuskan oleh pikiran maka itulah yang kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Ketika ada orang yang terlihat begitu sulit untuk berubah menjadi lebih baik, jangan-jangan ada peran kita di situ. Gara-gara kita berpikir bahwa orang ...