Beberapa hari yang lalu saya membeli ronde di warung STMJ. Dan pas banget ronde yang saya beli adalah stok terakhir hari itu. Penjualnya bilang hari itu dari sore banyak yang beli ronde jadi setelah 'Isya sudah habis. Padahal jualannya sampai pukul 23.30 WITA. Tapi dia tidak tertarik untuk menambah stok ronde lagi.
Kemudian dia pun menceritakan pengalamannya jualan ronde. "Yang namanya rezeki kalau memang sudah dikasihnya segitu ya segitu saja ya," dia mengawali ceritanya. Suatu hari rondenya sudah habis terjual, namun malam masih panjang, dia pun menghubungi istrinya di rumah untuk membuat kembali bahan-bahan pelengkap ronde. Qodarullooh sampai warungnya tutup, stok ronde tambahan tersebut hanya terjual 5 porsi.
Di kesempatan yang lain ketika dia berjualan di sebuah acara besar, ronde terjual habis dalam waktu yang singkat. Dia pun meminta istrinya untuk menyiapkan bahan-bahan pelengkap ronde untuk dijual lagi, karena masih ada waktu untuk berjualan. Qodarullooh lagi-lagi kenyataan yang terjadi tidak sesuai prediksi, tidak ada pembeli yang datang.
Dia pun kapok dan segera menyadari bahwa rezekinya memang sudah diatur, tidak perlu ngoyo mengejar. Akhirnya sampai sekarang dia tidak pernah menambah stok meskipun rondenya sudah habis di saat waktu berjualan masih panjang. Dia mengaku hatinya lebih tenang dengan keadaan seperti itu.
Matanya terlihat mulai berkaca-kaca, ternyata masih ada cerita yang lainnya. Dulu selain berjualan ronde dan STMJ di malam hari, dia juga bekerja di pagi hari sebagai tukang sol sepatu di pasar. Dia berusaha mengumpulkan uang yang banyak untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
"Mungkin ini teguran ya buat saya, dulu saya tuh sakit radang paru-paru," matanya pun semakin berkaca-kaca. Qodarullooh sakitnya cukup parah hingga perlu dirawat di rumah sakit.
"Badan saya sampai habis," dia menggambarkan betapa penyakit tersebut membuat dia begitu kewalahan.
"Dan harta yang dikumpulkan dari usaha selama ini juga habis untuk biaya pengobatan," ucapnya dengan air mata yang sudah menggenang. Kalau dia perempuan pasti sudah sesenggukan tuh sambil berlinangan air mata, he he he.
"Perlu waktu 4 tahun sampai saya benar-benar pulih," dia masih melanjutkan bercerita. Setelah itu dia pun memutuskan untuk mencukupkan diri berjualan ronde dan STMJ saja. Jika sudah habis terjual ya sudah dia pulang, meluangkan waktu bersama istri dan anak-anaknya di rumah. Dan tidak lagi tergoda untuk menambah stok ronde meskipun laris manis. Alhamdulillaah hatinya menjadi lebih tenang.
Saya jadi ingat sebuah hadits tentang memenuhi hak diri sendiri dan orang lain.
Nabi shollalloohu 'alaihi wa sallaam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda'. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda' ia melihat Ummu Darda' (istri Abu Darda') dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, "Mengapa keadaan kamu seperti itu?" Wanita itu menjawab, "Saudaramu Abu Darda' sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan."
Kemudian Abu Darda' datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda' berkata kepada Salman, "Makanlah, karena saya sedang berpuasa." Salman menjawab, "Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan." Maka Abu Darda' pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda' bangun untuk mengerjakan sholat malam. Salman pun berkata padanya, "Tidurlah." Abu Darda' pun tidur kembali. Ketika Abu Darda' bangun hendak mengerjakan sholat malam, Salman berkata lagi padanya, "Tidurlah!" Hingga pada akhir malam, Salman berkata, "Bangunlah." Lalu mereka sholat bersama-sama. Setelah itu Salman berkata kepadanya, "Sesungguhnya bagi Robbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut."
Kemudian Abu Darda' mendatangi Nabi shollalloohu 'alaihi wa sallaam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, "Salman itu benar." (HR. Bukhori no. 1968)
Orang yang sibuk beribadah hingga melupakan kebutuhan diri dan keluarganya saja tidak boleh, apalagi yang hanya sibuk bekerja mengurusi dunia.
Saya mengomentari cerita penjual ronde, "Istri dan anak-anak Bapak ga cuma perlu uang, tapi juga perhatian dari Bapak." Dan saya pun bercerita kepadanya tentang pengalaman hidup saya sebagai anak yang kurang perhatian meskipun kebutuhan materi berupa uang selalu tercukupi.
"Saya pernah depresi berkali-kali dalam kondisi memiliki banyak uang. Uang bukanlah sumber kebahagiaan," kata saya dengan tegas.
Dan bukan sebuah kebetulan saat itu saya baru saja membeli buah sawo cukup banyak. Segera saja saya memberikan sebagian sawo kepada penjual ronde.
Tentu saja dia begitu senang dan semakin yakin dengan rezeki yang sudah diatur.
Komentar
Posting Komentar