Tadi pagi saya tiba-tiba teringat seorang kawan. Ya, saya anggap dia sebagai kawan, meskipun tidak terlalu kenal. Namun jika kami bertemu, biasanya bertegur sapa dan bercakap-cakap dengan ceria. Dia adalah paman parkir di pasar. Qodarullooh saat ini dia sudah tidak ada lagi di dunia. Saya pun berdoa agar ALLOH mengampuni dosa-dosanya, aamiin.
Sewaktu tinggal di kota Rantau, saya sering main ke pasar, berkenalan dengan pedagang, penjahit, dan tukang parkir. Suatu hari saya ke pasar membawa ubi Cilembu, dan saat bertemu dengan paman parkir, saya beri dia satu buah ubi Cilembu. Di kesempatan berikutnya dia berkata bahwa ubinya enak sekali, dia baru pernah makan ubi seenak itu. Lalu saya pun menjelaskan bahwa itu adalah ubi Cilembu yang hanya bisa tumbuh di daerah Jawa Barat. Alhamdulillaah di Rantau ada yang jual ubi Cilembu, lumayan dekat dari rumah saya, jadi saya sering beli.
Di saat saya hendak ke pasar lagi, saya sengaja beli ubi Cilembu untuk diberikan kepada paman parkir. Betapa senangnya dia ketika mendapat sekeranjang ubi Cilembu, Alhamdulillaah. Dan tiba saatnya saya pindah dari kota Rantau, qodarullooh saya tidak sempat berpamitan kepada teman-teman di pasar. Tapi saya berniat untuk mengunjungi mereka, jika saya melakukan perjalanan ke kota provinsi maka saya ingin singgah di pasar kota Rantau.
Setelah 5 bulan berlalu sejak saya pindah, akhirnya kesempatan itu datang juga. Saat melewati warung ubi Cilembu, saya pun mampir, karena saya juga berteman dengan penjualnya, temu kangen dalam waktu yang cukup singkat. Dan saya mendapatkan hadiah sekeranjang ubi Cilembu, Alhamdulillaah. Sesampainya di pasar, ketika saya melihat ubi Cilembu, saya jadi ingat paman parkir yang menyukai ubi Cilembu. Saya berpikir akan memberikan sebagian ubi Cilembu ke dia, tapi saya kok merasa malas mengambil dan memindahkan ubi Cilembu ke plastik, rasanya kaya ribet banget, padahal sebenarnya itu adalah hal yang mudah.
Akhirnya saya tidak jadi membawa ubi Cilembu ke pasar. Alhamdulillaah saya bisa menginjakkan kaki lagi di pasar kota Rantau. Saya mengunjungi kios teman-teman saya satu per satu. Dan ketika sampai di tempat saya biasa bertemu paman parkir, salah satu teman saya bercerita bahwa paman parkir sudah meninggal. Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'uun. Saya langsung teringat ubi Cilembu. Saya pun jadi tahu kenapa saya merasa malas mengambil dan memindahkan ubi Cilembu ke plastik untuk dibawa ke pasar.
Teman saya berkata, "Ya itulah, rezekinya paman parkir sudah habis, orangnya sudah ga ada lagi." Saya ingin memberi ubi Cilembu kepada paman parkir tapi saya malas mengambil dan memindahkan ubi Cilembu ke plastik. Ternyata karena paman parkirnya sudah ga ada lagi di dunia, sehingga sudah tidak ada bagian rezeki lagi baginya di dunia ini. Kita akan mati jika jatah rezeki kita di dunia ini sudah habis. Jadi selama masih hidup artinya masih ada jatah rezeki kita di dunia ini. Tidak perlu mengkhawatirkan rezeki.
Dulu saya pernah bertanya kepada paman parkir perihal cincin batu akik yang dipakainya. "Ini ada isinya ga paman?" Dia menjawab bahwa batu akik di cincinnya memang ada isinya, maksudnya ada sesuatu yang memberikan kekuatan kepadanya. Dari sini sudah ketahuan kan ya, seperti apa kira-kira karakter paman parkir. Saya tidak membahasnya lebih lanjut karena memang saya tidak punya keperluan terkait batu akik tersebut.
Tapi tadi pagi saat saya teringat paman parkir, saya langsung berdoa kepada ALLOH agar mengampuni dosa-dosanya. Saya pun berpikir tentang manfaat bergaul dengan teman yang sholih/sholihah. Saya tidak tahu kehidupan paman parkir seperti apa, yang saya tahu dia bersikap baik kepada saya sebagai teman. Saat ini dia sudah meninggal, dan saya ingin menjadi teman yang sholihah yang mendoakan dia. Alloohummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu, aamiin.
Sebaik-baiknya manusia pasti ada keburukannya, dan seburuk-buruknya manusia pasti ada kebaikannya. Yang sefrekuensi akan beresonansi, saling menggetarkan. Frekuensi diri kita akan selalu berubah-ubah, karena sifat hati memang mudah terbolak-balik. Itulah mengapa kita bisa bertemu dan berinteraksi dengan beragam jenis manusia di dunia ini, manusia dengan level frekuensi yang berbeda-beda. Dan semuanya sudah diatur dengan sangat sempurna oleh ALLOH. Kita cukup menerima takdir dan menjalaninya dengan berpedoman kepada ilmu agama. In syaa ALLOH hidup pun menjadi mudah untuk dijalani.
Perbanyaklah teman yang sholih. Agar di saat kita sudah meninggalkan dunia ini, mereka bukan hanya mengenang tapi juga mendoakan kita. Jika ingin bertemu dengan teman-teman yang sholih maka kita pun harus menjadi orang yang sholih. Tetaplah semangat untuk beramal sholih meskipun baru mampu melakukan amalan yang ringan dan sedikit. Istiqomahkanlah yang ringan dan sedikit tersebut hingga akhirnya terbuka jalan untuk beramal yang lebih besar dan banyak. Baarokalloohu fiikum.
Komentar
Posting Komentar