Langsung ke konten utama

Aliran Rezeki

 Percayalah, rezeki tidak akan pernah tertukar. Rezeki tidak akan pernah salah alamat, rezeki tidak akan pernah bisa ditolak. Jika rezeki terasa macet mungkin itu disebabkan karena ada kewajiban yang belum ditunaikan. Kewajiban untuk mengalirkan rezeki ke arah yang tepat. Jika sesuatu yang seharusnya mengalir namun malah ditahan, akhirnya jadi bikin sumbatan bukan? Hati-hati saja kalau suatu saat malah justru terjadi ledakan yang membahayakan.

Setiap hari dan setiap saat rezeki kita selalu 100%. Jadi tidak ada gunanya jika kita selalu merasa kurang, yang sebenarnya terjadi adalah kita yang kurang bersyukur. Astaghfirullooh.

Banyak yang mengatakan bahwa rezeki saya selalu lancar, tidak pernah kekurangan sehingga bisa berbagi kepada yang lain. Padahal konsepnya bukan seperti itu. Alhamdulillaah rezeki saya selalu lancar karena saya suka berbagi kepada yang lain sehingga saya menjadi tidak pernah kekurangan. Apakah bisa dipahami? He he he.

Semuanya perlu latihan dan latihan itu harus dilakukan secara konsisten atau berkelanjutan. Bisa karena biasa, benar begitu bukan? Jadi jangan menyerah jika merasa belum bisa berbuat baik dengan mudah. Dibiasakan saja dimulai dengan yang paling mudah untuk dikerjakan sekarang juga. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. 

Berbagi itu tidak harus menunggu berlimpah. Berbagi itu tidak harus dengan sesuatu yang mewah. Berbagi itu tidak harus kepada yang di bawah. Karena berbagi itu ada banyak jenisnya, seperti zakat yang wajib, sedekah yang sunnah, dan hadiah yang mubah.

Saya ingat dulu pernah memberi nasi basi ke tetangga, karena tetangga saya memelihara ayam. Nasi basi kan bisa dimakan oleh ayam. Hanya perlu sedikit keberanian untuk membiasakan memberi kepada orang lain. Tapi ingat bahwa kita tidak dapat memberikan sesuatu yang tidak kita miliki. Jadi sebelum memberi kepada orang lain, pastikan bahwa diri kita sudah cukup dulu, dan yang lebih penting adalah rasa cukup yang ada di dalam hati, qona'ah.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Takut dan Tidak Sedih

  “Kami berfirman, “Turunlah kalian semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (QS. Al-Baqoroh: 38) Lawan kata dari “takut” dalam Bahasa Indonesia adalah berani, tegas, tenang, percaya diri, atau tidak takut. Lawan kata dari “sedih” dalam Bahasa Indonesia adalah senang, riang, bahagia, sumringah, ria, bungah, ceria, atau bangga. Kata-kata ini memiliki arti yang menunjukkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan, atau kegembiraan yang kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada ALLOH dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 62) “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLOH, dan dia berbuat baik, di...

Jalan yang Lurus

  “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (QS. Ghofir: 60) Sesungguhnya ALLOH selalu mengabulkan doa kita. Hanya saja kita yang sering tidak menyadarinya. Atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah berdoa. Ada sebuah doa yang selalu kita ulang setiap hari di dalam sholat. Tapi kita juga sering tidak menyadari bahwa kita telah berdoa meminta hal tersebut. Pada akhirnya kita tidak menanti-nanti terkabulnya doa tersebut. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”  (QS. Al-Fathihah: 6-7) Di setiap sholat kita berdoa kepada ALLOH agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh ALLOH. Siapakah mereka? “Dan barang siapa menaati ALLOH dan Ros...

Semua Manusia Itu Baik

Dulu aku mengira semua orang di dunia ini baik. Dan ternyata memang semua orang itu baik. tapi ada yang baiknya itu level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Ada juga yang baiknya itu level 0, level -1, level -2, level -3, dan seterusnya, he he he. Tapi semua orang itu memang baik kok karena seburuk-buruknya orang pasti ada kebaikannya dan sebaik-baiknya orang juga pasti ada keburukannya. Tidak ada yang bisa sempurna bukan? Namun seringkali kita lebih mudah untuk melihat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Bahkan sampai terucap kalimat yang menghakimi seperti “Diaa itu memang sudah ga bisa berubah, kaya gitu terus dari dulu ga pernah bisa jadi baik.” padahal selama masih hidup di dunia masih ada peluang untuk berubah menjadi lebih baik. Apa yang difokuskan oleh pikiran maka itulah yang kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Ketika ada orang yang terlihat begitu sulit untuk berubah menjadi lebih baik, jangan-jangan ada peran kita di situ. Gara-gara kita berpikir bahwa orang ...