Kenyataan yang terjadi di dalam hidup kita dipengaruhi oleh perspektif atau sudut pandang kita terhadap segala sesuatu. Sudut pandang dipengaruhi oleh ilmu dan pengalaman. Pengalaman didapatkan dari mengamalkan ilmu. Kita tergerak untuk mengamalkan ilmu karena kita percaya atau meyakini kebenaran dari ilmu tersebut. Dan sayangnya tidak semua ilmu yang kita yakini kebenarannya itu adalah kebenaran yang mutlak. Sehingga kita perlu merujuk pada ilmu yang merupakan kebenaran mutlak, yaitu ilmu agama. Karena ilmu dunia itu kebenarannya bersifat relatif.
Kebenaran tidak akan pernah bersatu dengan kebohongan. Jika kita merasa sulit untuk mengamalkan ilmu agama yang merupakan kebenaran mutlak, bisa jadi itu disebabkan karena secara tidak sadar kita masih meyakini sebuah kebohongan sebagai kebenaran. Untuk mengatasinya maka kita perlu terus mencoba membantah kebohongan tersebut dengan mengulang-ulang kebenaran yang sesungguhnya. Caranya gimana? Amalkan ilmu agama secara istiqomah. Bukankah yang dimaksud istiqomah adalah mengulang-ulang tanpa henti?
Dan ilmu agama itu sangat banyak dan luas, jadi jangan menyerah jika memang belum sanggup istiqomah di satu amalan, karena masih ada banyak amalan lain yang bisa diupayakan agar kita bisa istiqomah dalam menjalankannya. Dalil agama itu ada banyak, jangan menyerah jika belum mampu mengamalkan satu dalil, karena masih ada banyak dalil yang bisa diamalkan sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Bukankah ALLOH memerintahkan untuk bertakwa sesuai kemampuan kita?
"Maka bertakwalah kamu kepada ALLOH menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. At-Taghobun:16)
Dengarlah dan taatlah. Inilah iman, yakin tanpa perlu mendapatkan buktinya terlebih dahulu. Seorang mukmin yang kuat adalah dia yang langsung yakin dengan kebenaran dalil tanpa banyak bertanya kenapa, mengapa, bagaimana jika, dan sebagainya. Semakin kuat iman seseorang maka akan semakin mudah membantah berbagai kebohongan yang ada di dalam pikiran bawah sadarnya. Dan sudut pandangnya terhadap kehidupan pun akan berubah, meskipun kenyataan yang terjadi tidak selalu menyenangkan tapi responnya terhadap kenyataan menjadi lebih baik, yaitu sabar dan syukur.
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)
Perspekstif atau sudut pandang akan menghasilkan emosi. Jika sudut pandang kita terhadap sesuatu telah diubah, maka secara otomatis emosi yang terkait dengan sudut pandang sebelumnya menjadi hilang. Dan dengan mengubah sudut pandang kita menjadi sudut pandang seorang mukmin maka semua emosi negatif akan menghilang, karena hanya seorang mukmin lah yang mampu mendapatkan ketenangan hati dengan senantiasa mengingat ALLOH.
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ro'd:28)
Dan kebahagiaan sejati akan diperoleh hanya dengan menjadi seorang mukmin. Yang disebut mukmin adalah seseorang yang beriman, beriman kepada Rukun Iman. Silahkan dipelajari sendiri tentang Rukun Iman ya. Intinya adalah jika ingin hidup bahagia maka harus menjadi seorang mukmin, dimulai dari mengubah sudut pandang.
"Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik." (QS. Ar-Ro'd:29)
Ubahlah sudut pandang dengan mempelajari ilmu agama. Belajar dan amalkan, tidak perlu banyak bertanya dan berpikir. Karena terlalu banyak bertanya dan berpikir menunjukkan keraguan yang besar. Ragu adalah lawan dari kata yakin. Sedangkan iman artinya yakin. Jika ragu-ragu artinya kurang beriman. Sepertinya jika orang dikatain kurang beriman pasti akan marah, ga terima, he he he. Tapi fakta tidak pernah bohong kan, kalau masih ragu berarti kurang beriman, selesai.
Komentar
Posting Komentar