Langsung ke konten utama

Sudut Pandang

 Kenyataan yang terjadi di dalam hidup kita dipengaruhi oleh perspektif atau sudut pandang kita terhadap segala sesuatu. Sudut pandang dipengaruhi oleh ilmu dan pengalaman. Pengalaman didapatkan dari mengamalkan ilmu. Kita tergerak untuk mengamalkan ilmu karena kita percaya atau meyakini kebenaran dari ilmu tersebut. Dan sayangnya tidak semua ilmu yang kita yakini kebenarannya itu adalah kebenaran yang mutlak. Sehingga kita perlu merujuk pada ilmu yang merupakan kebenaran mutlak, yaitu ilmu agama. Karena ilmu dunia itu kebenarannya bersifat relatif.

Kebenaran tidak akan pernah bersatu dengan kebohongan. Jika kita merasa sulit untuk mengamalkan ilmu agama yang merupakan kebenaran mutlak, bisa jadi itu disebabkan karena secara tidak sadar kita masih meyakini sebuah kebohongan sebagai kebenaran. Untuk mengatasinya maka kita perlu terus mencoba membantah kebohongan tersebut dengan mengulang-ulang kebenaran yang sesungguhnya. Caranya gimana? Amalkan ilmu agama secara istiqomah. Bukankah yang dimaksud istiqomah adalah mengulang-ulang tanpa henti?

Dan ilmu agama itu sangat banyak dan luas, jadi jangan menyerah jika memang belum sanggup istiqomah di satu amalan, karena masih ada banyak amalan lain yang bisa diupayakan agar kita bisa istiqomah dalam menjalankannya. Dalil agama itu ada banyak, jangan menyerah jika belum mampu mengamalkan satu dalil, karena masih ada banyak dalil yang bisa diamalkan sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Bukankah ALLOH memerintahkan untuk bertakwa sesuai kemampuan kita?

"Maka bertakwalah kamu kepada ALLOH menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. At-Taghobun:16)

Dengarlah dan taatlah. Inilah iman, yakin tanpa perlu mendapatkan buktinya terlebih dahulu. Seorang mukmin yang kuat adalah dia yang langsung yakin dengan kebenaran dalil tanpa banyak bertanya kenapa, mengapa, bagaimana jika, dan sebagainya. Semakin kuat iman seseorang maka akan semakin mudah membantah berbagai kebohongan yang ada di dalam pikiran bawah sadarnya. Dan sudut pandangnya terhadap kehidupan pun akan berubah, meskipun kenyataan yang terjadi tidak selalu menyenangkan tapi responnya terhadap kenyataan menjadi lebih baik, yaitu sabar dan syukur.

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Perspekstif atau sudut pandang akan menghasilkan emosi. Jika sudut pandang kita terhadap sesuatu telah diubah, maka secara otomatis emosi yang terkait dengan sudut pandang sebelumnya menjadi hilang. Dan dengan mengubah sudut pandang kita menjadi sudut pandang seorang mukmin maka semua emosi negatif akan menghilang, karena hanya seorang mukmin lah yang mampu mendapatkan ketenangan hati dengan senantiasa mengingat ALLOH.

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ro'd:28)

Dan kebahagiaan sejati akan diperoleh hanya dengan menjadi seorang mukmin. Yang disebut mukmin adalah seseorang yang beriman, beriman kepada Rukun Iman. Silahkan dipelajari sendiri tentang Rukun Iman ya. Intinya adalah jika ingin hidup bahagia maka harus menjadi seorang mukmin, dimulai dari mengubah sudut pandang.

"Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik." (QS. Ar-Ro'd:29)

Ubahlah sudut pandang dengan mempelajari ilmu agama. Belajar dan amalkan, tidak perlu banyak bertanya dan berpikir. Karena terlalu banyak bertanya dan berpikir menunjukkan keraguan yang besar. Ragu adalah lawan dari kata yakin. Sedangkan iman artinya yakin. Jika ragu-ragu artinya kurang beriman. Sepertinya jika orang dikatain kurang beriman pasti akan marah, ga terima, he he he. Tapi fakta tidak pernah bohong kan, kalau masih ragu berarti kurang beriman, selesai.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Takut dan Tidak Sedih

  “Kami berfirman, “Turunlah kalian semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (QS. Al-Baqoroh: 38) Lawan kata dari “takut” dalam Bahasa Indonesia adalah berani, tegas, tenang, percaya diri, atau tidak takut. Lawan kata dari “sedih” dalam Bahasa Indonesia adalah senang, riang, bahagia, sumringah, ria, bungah, ceria, atau bangga. Kata-kata ini memiliki arti yang menunjukkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan, atau kegembiraan yang kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada ALLOH dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 62) “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLOH, dan dia berbuat baik, di...

Jalan yang Lurus

  “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (QS. Ghofir: 60) Sesungguhnya ALLOH selalu mengabulkan doa kita. Hanya saja kita yang sering tidak menyadarinya. Atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah berdoa. Ada sebuah doa yang selalu kita ulang setiap hari di dalam sholat. Tapi kita juga sering tidak menyadari bahwa kita telah berdoa meminta hal tersebut. Pada akhirnya kita tidak menanti-nanti terkabulnya doa tersebut. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”  (QS. Al-Fathihah: 6-7) Di setiap sholat kita berdoa kepada ALLOH agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh ALLOH. Siapakah mereka? “Dan barang siapa menaati ALLOH dan Ros...

Semua Manusia Itu Baik

Dulu aku mengira semua orang di dunia ini baik. Dan ternyata memang semua orang itu baik. tapi ada yang baiknya itu level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Ada juga yang baiknya itu level 0, level -1, level -2, level -3, dan seterusnya, he he he. Tapi semua orang itu memang baik kok karena seburuk-buruknya orang pasti ada kebaikannya dan sebaik-baiknya orang juga pasti ada keburukannya. Tidak ada yang bisa sempurna bukan? Namun seringkali kita lebih mudah untuk melihat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Bahkan sampai terucap kalimat yang menghakimi seperti “Diaa itu memang sudah ga bisa berubah, kaya gitu terus dari dulu ga pernah bisa jadi baik.” padahal selama masih hidup di dunia masih ada peluang untuk berubah menjadi lebih baik. Apa yang difokuskan oleh pikiran maka itulah yang kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Ketika ada orang yang terlihat begitu sulit untuk berubah menjadi lebih baik, jangan-jangan ada peran kita di situ. Gara-gara kita berpikir bahwa orang ...