Langsung ke konten utama

Pertanyaan dan Jawaban (1)

 Beberapa waktu yang lalu aku membuka kesempatan bagi teman-teman untuk bertanya tentang segala macam yang berkaitan dengan parenting, luka batin, kesehatan mental, dan sejenisnya. Aku bagikan di sini biar bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk yang lain juga. Silahkan dibaca dan semoga bermanfaat.

Pertanyaan:
Bagaimana cara menjadi ibu yang bisa lebih mengelola emosinya?

Jawaban:
Bismillaah, aku akan mencoba menjawab ya, semoga bermanfaat.

Emosi adalah respon yang dirasakan oleh tubuh dari apa yang kita yakini di dalam pikiran. Sehingga untuk mengelola emosi kita perlu mengelola pikiran. Agar bisa mengelola pikiran maka kita perlu memilih informasi apa yang masuk ke dalam pikiran kita, pastikan bahwa informasi yang masuk adalah bersifat baik dan bermanfaat, artinya kita perlu menghindari informasi-informasi yang buruk dan tidak bermanfaat. Tanyakan kepada diri sendiri mana yang baik dan mana yang buruk, keputusan ada di tangan masing-masing.

Jika sudah muncul emosi, maka rasakan saja. Beri ruang dan waktu kepada diri sendiri untuk merasakan emosi, tanpa perlu melampiaskannya. Memang tidak mudah, perlu berlatih terus-menerus. Emosi itu cukup dirasakan agar bisa mengalir dan kemudian menghilang, dirasakan saja bukan dilampiaskan. Rasanya memang sakit tapi semua akan reda ketika emosinya sudah berhasil dirasakan.
Karena jika emosi tidak dirasakan maka akan menjadi emosi terpendam dan bisa meledak kapan saja.

Misalnya jika anak membuat kita marah. Pertama, kelola pikiran dengan menyadari bahwa dia cuma anak-anak yang belum paham, lihatlah dari sudut pandang yang lebih luas tentang apa yang dilakukan oleh anak.
Kedua, rasakan emosi tanpa melampiaskannya. Rasakan saja marah yang muncul, ekspresikan dengan anggota tubuh misalnya dengan mengepalkan tangan dan meninju bantal, wajah yang menyeringai seperti binatang buas. Tapi pastikan lakukan semua itu di tempat yang aman agar tidak melukai diri sendiri maupun anak.

Mungkin tidak mudah, karena memang perlu latihan yang terus-menerus. Bisa karena biasa bukan?

Semoga bermanfaat,
Kholis Widuri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Takut dan Tidak Sedih

  “Kami berfirman, “Turunlah kalian semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (QS. Al-Baqoroh: 38) Lawan kata dari “takut” dalam Bahasa Indonesia adalah berani, tegas, tenang, percaya diri, atau tidak takut. Lawan kata dari “sedih” dalam Bahasa Indonesia adalah senang, riang, bahagia, sumringah, ria, bungah, ceria, atau bangga. Kata-kata ini memiliki arti yang menunjukkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan, atau kegembiraan yang kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada ALLOH dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 62) “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLOH, dan dia berbuat baik, di...

Jalan yang Lurus

  “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (QS. Ghofir: 60) Sesungguhnya ALLOH selalu mengabulkan doa kita. Hanya saja kita yang sering tidak menyadarinya. Atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah berdoa. Ada sebuah doa yang selalu kita ulang setiap hari di dalam sholat. Tapi kita juga sering tidak menyadari bahwa kita telah berdoa meminta hal tersebut. Pada akhirnya kita tidak menanti-nanti terkabulnya doa tersebut. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”  (QS. Al-Fathihah: 6-7) Di setiap sholat kita berdoa kepada ALLOH agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh ALLOH. Siapakah mereka? “Dan barang siapa menaati ALLOH dan Ros...

Semua Manusia Itu Baik

Dulu aku mengira semua orang di dunia ini baik. Dan ternyata memang semua orang itu baik. tapi ada yang baiknya itu level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Ada juga yang baiknya itu level 0, level -1, level -2, level -3, dan seterusnya, he he he. Tapi semua orang itu memang baik kok karena seburuk-buruknya orang pasti ada kebaikannya dan sebaik-baiknya orang juga pasti ada keburukannya. Tidak ada yang bisa sempurna bukan? Namun seringkali kita lebih mudah untuk melihat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Bahkan sampai terucap kalimat yang menghakimi seperti “Diaa itu memang sudah ga bisa berubah, kaya gitu terus dari dulu ga pernah bisa jadi baik.” padahal selama masih hidup di dunia masih ada peluang untuk berubah menjadi lebih baik. Apa yang difokuskan oleh pikiran maka itulah yang kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Ketika ada orang yang terlihat begitu sulit untuk berubah menjadi lebih baik, jangan-jangan ada peran kita di situ. Gara-gara kita berpikir bahwa orang ...