Langsung ke konten utama

Pertanyaan dan Jawaban (2)

 Beberapa waktu yang lalu aku membuka kesempatan bagi teman-teman untuk bertanya tentang segala macam yang berkaitan dengan parenting, luka batin, kesehatan mental, dan sejenisnya. Aku bagikan di sini biar bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk yang lain juga. Silahkan dibaca dan semoga bermanfaat.

Pertanyaan:
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 
Mohon izin bagaimana caranya supaya kita bisa mengeluarkan unek-unek atau ganjalan dalam hati sedangkan saya susah percaya sama orang lain, padahal saya pernah mendengar dan membaca kalau memendam unek-unek itu bisa menyebabkan masalah mental health?

Jawaban:
Wa'alaykumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.
Bismillaah, aku akan mencoba menjawab ya.

Mengeluarkan unek-unek itu berkaitan dengan kemampuan mengekspresikan perasaan atau emosi.
Kemampuan kita untuk berekspresi dipengaruhi oleh pola asuh ketika kecil. Secara fisik tubuh kita harus dilatih agar bisa mengekspresikan emosi.

Sebenarnya semua emosi itu bermanfaat, namun pada umumnya sedari kecil anak-anak sudah diberi tahu bahwa marah itu tidak boleh, sedih itu tidak baik, dan beragam doktrin lain yang menyebutkan bahwa emosi negatif itu tidak baik atau kita tidak boleh merasakan emosi negatif.

Padahal yang namanya manusia pasti ada kalanya muncul emosi negatif, tapi karena sudah dibiasakan dari kecil untuk tidak merasakan emosi negatif akhirnya emosi tersebut akan tersimpan dan menjadi emosi terpendam.

Emosi terpendam ini akan memengaruhi pikiran yang membuat overthinking, termasuk menjadi sulit percaya kepada orang lain. Gara-gara sulit percaya kepada orang lain akhirnya semakin memendam emosi dan emosi terpendamnya semakin menumpuk, lalu semakin overthinking, dan seterusnya, menjadi seperti lingkaran setan. Qodarullooh.

Lalu bagaimana cara memutusnya?
Yaitu dengan berlatih merasakan emosi. Karena yang namanya emosi itu memang hanya perlu dirasakan agar bisa mengalir dan kemudian menghilang.
Jika emosinya sudah hilang maka tidak akan lagi memengaruhi pikiran.
Jika pikirannya lebih tenang maka tidak memunculkan emosi.

Bagaimana cara merasakan emosi?
Pastikan untuk membedakan antara merasakan dengan melampiaskan.
Misalnya jika muncul marah, jika melampiaskan maka akan bersuara keras atau teriak meledak-ledak, membanting barang atau memukul.
Sedangkan merasakan marah adalah dengan menyadari bahwa sedang marah, "Oh aku sedang marah", akui keberadaan emosi tersebut, marah itu gapapa kok, beri ruang dan waktu kepada diri sendiri untuk mengalirkan energi marah tersebut dengan cara yang aman, tidak melukai diri sendiri maupun orang lain. Jika ingin memukul maka pukul bantal saja, jika ingin teriak maka ekspresikan saja wajah seperti binatang buas yang sedang menyeringai.

Merasakan itu dengan menggunakan tubuh, dengan indera yang kita miliki. Misalnya ketika sedih badan kita menjadi lemas, dada terasa sesak, telapak tangan menjadi dingin, cukup dirasakan saja, biarkan mengalir.
Tapi perlu diingat untuk tidak memberi makan emosi dengan pikiran-pikiran negatif atau bersikap sebagai korban keadaan, karena hal ini hanya akan menambah penderitaan. Ambil tanggung jawab penuh terhadap emosi yang muncul pada diri sendiri.

Kata emosi dalam bahasa Inggris adalah emotion, energy in motion, energi yang bergerak. Jadi yang namanya emosi itu perlu dialirkan. Jika sudah dialirkan maka bisa dilepaskan, dibuang dari dalam tubuh, tidak lagi tersimpan sebagai emosi terpendam.
Merasakan emosi mungkin terasa tidak mudah apalagi jika sudah terbiasa langsung memendam emosi. Tapi dengan terus berlatih secara konsisten, in syaa ALLOH tubuh akan menjadi terbiasa merasakan emosi. Tidak harus sempurna, bersabarlah menghadapi diri sendiri dalam proses belajar merasakan emosi, berlemah lembutlah kepada diri sendiri.

Amati dan rasakan perubahan baik sekecil apa pun yang terjadi pada diri sendiri, beri apresiasi kepada diri sendiri. Terus berlatih dan tiba-tiba kamu pun bisa mengeluarkan unek-unek dengan mudah tanpa ada rasa khawatir dengan penilaian orang lain.
Selamat mencoba!

Semoga bermanfaat,
Kholis Widuri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Takut dan Tidak Sedih

  “Kami berfirman, “Turunlah kalian semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (QS. Al-Baqoroh: 38) Lawan kata dari “takut” dalam Bahasa Indonesia adalah berani, tegas, tenang, percaya diri, atau tidak takut. Lawan kata dari “sedih” dalam Bahasa Indonesia adalah senang, riang, bahagia, sumringah, ria, bungah, ceria, atau bangga. Kata-kata ini memiliki arti yang menunjukkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan, atau kegembiraan yang kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada ALLOH dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 62) “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLOH, dan dia berbuat baik, di...

Jalan yang Lurus

  “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (QS. Ghofir: 60) Sesungguhnya ALLOH selalu mengabulkan doa kita. Hanya saja kita yang sering tidak menyadarinya. Atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah berdoa. Ada sebuah doa yang selalu kita ulang setiap hari di dalam sholat. Tapi kita juga sering tidak menyadari bahwa kita telah berdoa meminta hal tersebut. Pada akhirnya kita tidak menanti-nanti terkabulnya doa tersebut. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”  (QS. Al-Fathihah: 6-7) Di setiap sholat kita berdoa kepada ALLOH agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh ALLOH. Siapakah mereka? “Dan barang siapa menaati ALLOH dan Ros...

Semua Manusia Itu Baik

Dulu aku mengira semua orang di dunia ini baik. Dan ternyata memang semua orang itu baik. tapi ada yang baiknya itu level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Ada juga yang baiknya itu level 0, level -1, level -2, level -3, dan seterusnya, he he he. Tapi semua orang itu memang baik kok karena seburuk-buruknya orang pasti ada kebaikannya dan sebaik-baiknya orang juga pasti ada keburukannya. Tidak ada yang bisa sempurna bukan? Namun seringkali kita lebih mudah untuk melihat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Bahkan sampai terucap kalimat yang menghakimi seperti “Diaa itu memang sudah ga bisa berubah, kaya gitu terus dari dulu ga pernah bisa jadi baik.” padahal selama masih hidup di dunia masih ada peluang untuk berubah menjadi lebih baik. Apa yang difokuskan oleh pikiran maka itulah yang kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Ketika ada orang yang terlihat begitu sulit untuk berubah menjadi lebih baik, jangan-jangan ada peran kita di situ. Gara-gara kita berpikir bahwa orang ...