Beberapa waktu yang lalu aku membuka kesempatan bagi teman-teman untuk bertanya tentang segala macam yang berkaitan dengan parenting, luka batin, kesehatan mental, dan sejenisnya. Aku bagikan di sini biar bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk yang lain juga. Silahkan dibaca dan semoga bermanfaat.
Pertanyaan:
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Mohon izin bagaimana caranya supaya kita bisa mengeluarkan unek-unek atau ganjalan dalam hati sedangkan saya susah percaya sama orang lain, padahal saya pernah mendengar dan membaca kalau memendam unek-unek itu bisa menyebabkan masalah mental health?
Jawaban:
Wa'alaykumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.
Bismillaah, aku akan mencoba menjawab ya.
Mengeluarkan unek-unek itu berkaitan dengan kemampuan mengekspresikan perasaan atau emosi.
Kemampuan kita untuk berekspresi dipengaruhi oleh pola asuh ketika kecil. Secara fisik tubuh kita harus dilatih agar bisa mengekspresikan emosi.
Sebenarnya semua emosi itu bermanfaat, namun pada umumnya sedari kecil anak-anak sudah diberi tahu bahwa marah itu tidak boleh, sedih itu tidak baik, dan beragam doktrin lain yang menyebutkan bahwa emosi negatif itu tidak baik atau kita tidak boleh merasakan emosi negatif.
Padahal yang namanya manusia pasti ada kalanya muncul emosi negatif, tapi karena sudah dibiasakan dari kecil untuk tidak merasakan emosi negatif akhirnya emosi tersebut akan tersimpan dan menjadi emosi terpendam.
Emosi terpendam ini akan memengaruhi pikiran yang membuat overthinking, termasuk menjadi sulit percaya kepada orang lain. Gara-gara sulit percaya kepada orang lain akhirnya semakin memendam emosi dan emosi terpendamnya semakin menumpuk, lalu semakin overthinking, dan seterusnya, menjadi seperti lingkaran setan. Qodarullooh.
Lalu bagaimana cara memutusnya?
Yaitu dengan berlatih merasakan emosi. Karena yang namanya emosi itu memang hanya perlu dirasakan agar bisa mengalir dan kemudian menghilang.
Jika emosinya sudah hilang maka tidak akan lagi memengaruhi pikiran.
Jika pikirannya lebih tenang maka tidak memunculkan emosi.
Bagaimana cara merasakan emosi?
Pastikan untuk membedakan antara merasakan dengan melampiaskan.
Misalnya jika muncul marah, jika melampiaskan maka akan bersuara keras atau teriak meledak-ledak, membanting barang atau memukul.
Sedangkan merasakan marah adalah dengan menyadari bahwa sedang marah, "Oh aku sedang marah", akui keberadaan emosi tersebut, marah itu gapapa kok, beri ruang dan waktu kepada diri sendiri untuk mengalirkan energi marah tersebut dengan cara yang aman, tidak melukai diri sendiri maupun orang lain. Jika ingin memukul maka pukul bantal saja, jika ingin teriak maka ekspresikan saja wajah seperti binatang buas yang sedang menyeringai.
Merasakan itu dengan menggunakan tubuh, dengan indera yang kita miliki. Misalnya ketika sedih badan kita menjadi lemas, dada terasa sesak, telapak tangan menjadi dingin, cukup dirasakan saja, biarkan mengalir.
Tapi perlu diingat untuk tidak memberi makan emosi dengan pikiran-pikiran negatif atau bersikap sebagai korban keadaan, karena hal ini hanya akan menambah penderitaan. Ambil tanggung jawab penuh terhadap emosi yang muncul pada diri sendiri.
Kata emosi dalam bahasa Inggris adalah emotion, energy in motion, energi yang bergerak. Jadi yang namanya emosi itu perlu dialirkan. Jika sudah dialirkan maka bisa dilepaskan, dibuang dari dalam tubuh, tidak lagi tersimpan sebagai emosi terpendam.
Merasakan emosi mungkin terasa tidak mudah apalagi jika sudah terbiasa langsung memendam emosi. Tapi dengan terus berlatih secara konsisten, in syaa ALLOH tubuh akan menjadi terbiasa merasakan emosi. Tidak harus sempurna, bersabarlah menghadapi diri sendiri dalam proses belajar merasakan emosi, berlemah lembutlah kepada diri sendiri.
Amati dan rasakan perubahan baik sekecil apa pun yang terjadi pada diri sendiri, beri apresiasi kepada diri sendiri. Terus berlatih dan tiba-tiba kamu pun bisa mengeluarkan unek-unek dengan mudah tanpa ada rasa khawatir dengan penilaian orang lain.
Selamat mencoba!
Semoga bermanfaat,
Kholis Widuri
Komentar
Posting Komentar