Langsung ke konten utama

Pertanyaan dan Jawaban (3)

 Beberapa waktu yang lalu aku membuka kesempatan bagi teman-teman untuk bertanya tentang segala macam yang berkaitan dengan parenting, luka batin, kesehatan mental, dan sejenisnya. Aku bagikan di sini biar bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk yang lain juga. Silahkan dibaca dan semoga bermanfaat.

Pertanyaan:
Bismillah bagaimana cara menghilangkan takut dan rasa tidak tertarik untuk menikah? Bagaimana cara menemukan jodoh yang tepat dan terbaik sehingga bisa yakin dan tidak takut lagi? Terima kasih.

Jawaban:
Bismillaah, aku akan mencoba menjawab ya.

Rasa takut menikah adalah akibat. Lalu apa yang menjadi penyebabnya? Biasanya berawal dari peristiwa di masa kecil yang pada akhirnya membentuk sudut pandang terhadap pernikahan. Anak kecil yang melihat orang tuanya bertengkar, melihat hubungan pernikahan orang tuanya tidak harmonis, akan menilai dan menyimpulkan bahwa yang namanya pernikahan ya seperti itu, seperti apa yang dia lihat pada kehidupan pernikahan orang tuanya. Jika yang dilihatnya adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, menyebalkan, tidak membahagiakan, terasa berat atau menjadi beban, tentu saja akhirnya dia akan memutuskan untuk lebih baik tidak menikah ketika dewasa karena berpikir bahwa pernikahan itu tidak menyenangkan. Dan itu menjadi program di pikiran bawah sadarnya, sehingga ketika sudah dewasa dan sebenarnya ingin menikah tapi dia tetap dikendalikan oleh program bawah sadarnya. Sehingga yang terjadi adalah takut untuk menikah, meskipun ada yang mengajaknya menikah tapi merasa tidak tertarik atau tidak pernah ada yang cocok.
Sadari bahwa itu adalah program di pikiran bawah sadar, dan pikiran bisa diubah kapan saja. Ubahlah pikiranmu dan kenyataan hidupmu pun akan berubah. ALLOH sesuai prasangka hamba-Nya bukan?

Rasa takut biasanya muncul karena menghadapi ketidakpastian. Otak akan memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan berdasarkan apa yang pernah dialami di masa lalu. Dan dengan dasar itulah otak akan berusaha mencari cara untuk menghindari kejadian tersebut terulang kembali di masa depan. Pada akhirnya kita menjadi cemas, khawatir, takut, merasa tertekan, dan seperti membawa beban berat.
Padahal yang namanya masa lalu itu sudah berlalu dan tidak dapat terulang kembali. Dan masa depan itu penuh dengan ketidakpastian.
Tapi itu juga berarti bahwa masa depan itu penuh dengan kemungkinan baik.
Jika kita membayangkan sesuatu yang menyenangkan akan terjadi di masa depan maka kita menjadi bersemangat dan rasa senang itu sudah bisa dirasakan di saat ini bukan?
Jadi tinggal pilih, apakah kita akan mencemaskan masa depan atau membayangkan hal baik akan terjadi di masa depan?

Dan sebenarnya satu-satunya cara untuk menjalani kehidupan adalah dengan hidup di masa sekarang. Jika kita terus berkutat dengan masa lalu atau masa depan, maka kita hanya sibuk membangun hubungan dengan pikiran kita sendiri. Tapi jika kita sibuk terlibat dengan apa yang sedang kita lakukan di saat ini, di masa sekarang, itu berarti kita benar-benar menjalin hubungan dengan kehidupan, kita percaya dan berserah terhadap segala sesuatu yang akan ditunjukkan oleh kehidupan. Qodarullooh selalu baik, jadi jalani saja semuanya dengan berani. Tidak harus sempurna, salah itu manusiawi kok.

Jodoh itu seperti maut, sudah ditetapkan oleh ALLOH dari sebelum kita lahir ke dunia. Fokus saja menjalani hidup di masa sekarang, karena kehidupan yang bisa kita jalani hanyalah saat ini.
Tetap semangat ya!

Semoga bermanfaat,
Kholis Widuri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Takut dan Tidak Sedih

  “Kami berfirman, “Turunlah kalian semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (QS. Al-Baqoroh: 38) Lawan kata dari “takut” dalam Bahasa Indonesia adalah berani, tegas, tenang, percaya diri, atau tidak takut. Lawan kata dari “sedih” dalam Bahasa Indonesia adalah senang, riang, bahagia, sumringah, ria, bungah, ceria, atau bangga. Kata-kata ini memiliki arti yang menunjukkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan, atau kegembiraan yang kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada ALLOH dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 62) “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLOH, dan dia berbuat baik, di...

Jalan yang Lurus

  “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (QS. Ghofir: 60) Sesungguhnya ALLOH selalu mengabulkan doa kita. Hanya saja kita yang sering tidak menyadarinya. Atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah berdoa. Ada sebuah doa yang selalu kita ulang setiap hari di dalam sholat. Tapi kita juga sering tidak menyadari bahwa kita telah berdoa meminta hal tersebut. Pada akhirnya kita tidak menanti-nanti terkabulnya doa tersebut. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”  (QS. Al-Fathihah: 6-7) Di setiap sholat kita berdoa kepada ALLOH agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh ALLOH. Siapakah mereka? “Dan barang siapa menaati ALLOH dan Ros...

Semua Manusia Itu Baik

Dulu aku mengira semua orang di dunia ini baik. Dan ternyata memang semua orang itu baik. tapi ada yang baiknya itu level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Ada juga yang baiknya itu level 0, level -1, level -2, level -3, dan seterusnya, he he he. Tapi semua orang itu memang baik kok karena seburuk-buruknya orang pasti ada kebaikannya dan sebaik-baiknya orang juga pasti ada keburukannya. Tidak ada yang bisa sempurna bukan? Namun seringkali kita lebih mudah untuk melihat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Bahkan sampai terucap kalimat yang menghakimi seperti “Diaa itu memang sudah ga bisa berubah, kaya gitu terus dari dulu ga pernah bisa jadi baik.” padahal selama masih hidup di dunia masih ada peluang untuk berubah menjadi lebih baik. Apa yang difokuskan oleh pikiran maka itulah yang kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Ketika ada orang yang terlihat begitu sulit untuk berubah menjadi lebih baik, jangan-jangan ada peran kita di situ. Gara-gara kita berpikir bahwa orang ...