Langsung ke konten utama

Pertanyaan dan Jawaban (4)

 Beberapa waktu yang lalu aku membuka kesempatan bagi teman-teman untuk bertanya tentang segala macam yang berkaitan dengan parenting, luka batin, kesehatan mental, dan sejenisnya. Aku bagikan di sini biar bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk yang lain juga. Silahkan dibaca dan semoga bermanfaat.

Pertanyaan:
Saya berusia 25 tahun, ibu 2 anak, yang pertama 2 tahun 6 bulan yang kedua 1 tahun 2 bulan. Sekarang kesibukan saya mengurus rumah, anak, suami, dan produksi risol. Sekarang saya semakin menyadari, saya sulit dalam hal komunikasi, karena luka parenting masa lalu, yang membuat saya sulit mengungkapkan apa yang sebenarnya saya rasakan bahkan ke suami saya sendiri, saya lebih memilih memendam apa yang saya rasakan, saya sering tidak terbuka tentang perasaan saya, pernah saya mencoba mengungkapkan isi hati saya, tapi malah respon nya, seolah saya yang kurang bersyukur. Dalam memulai komunikasi dengan orang lain pun, terlebih orang baru, saya sulit sekali untuk memulai pembicaraan, sulit mencari topik, karena bagi saya bicara hal yang nggak penting kali nggak perlu gitu, takut ada yang saya tanya malah menyakiti hati orang. Bahkan sekarang ada permasalahan dengan anggota yang membantu saya produksi risol, belum saya selesaikan sampai sekarang, ini sudah kejadian beberapa kali sebenarnya, anggota kami ini tidak paham juga dengan kesepakatan kerja kami di awal, saya sudah jelaskan kalau tidak datang kerja dipotong 50k, jumlah gaji berdasarkan hari kerja, sebenarnya pernah kami buat sistem bonus, beliau tidak paham. Beliau memang lebih tua dari kami, sebaya dengan orang tua kami, tapi sulit sekali menjelaskan hal baru kepada beliau. Bahkan masalah produksi kami lebih banyak rugi. Bagaimana saya bisa melatih komunikasi?

Jawaban:
Bismillaah, aku akan mencoba menjawab ya.

Memendam perasaan atau emosi itu memang melelahkan dan menyakitkan. Emosi terpendam yang dibiarkan semakin lama akan semakin menumpuk dan akan menyebabkan rasa sakit di tubuh fisik.

Perhatikan alur terjadinya emosi terpendam berikut ini:
  1. Semua berawal dari pikiran. Pikiran kita terdiri dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar inilah yang seringkali tidak terdekteksi, padahal pengaruh pikiran bawah sadar terhadap kehidupan kita itu lebih besar daripada pikiran sadar.
  2. Jika kita mengalami sebuah kejadian, maka pikiran kita akan menilai kejadian tersebut. Penilaian yang kita buat akan sesuai dengan informasi yang kita miliki, sesuai dengan ilmu yang dipahami dan pengalaman yang sudah pernah dirasakan. Apa pun penilaian kita terhadap kejadian tersebut tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah jika kita percaya atau meyakini penilaian tersebut. Jika kita meyakini apa yang kita pikirkan tersebut maka muncullah emosi.
  3. Jika muncul emosi, hal ini juga tidak menjadi masalah. Karena emosi itu hanya perlu dirasakan agar bisa mengalir dan kemudian menghilang. Yang jadi masalah adalah ketika kita menolak untuk merasakan emosi yang muncul. Biasanya kita akan menolak jika yang muncul adalah emosi negatif, ini disebabkan oleh doktrin dari sejak kecil yang mengatakan bahwa emosi negatif itu tidak baik. Jika emosi tidak dirasakan maka dia tidak bisa mengalir dan menghilang, tapi dia akan disimpan di dalam tubuh dan menjadi emosi terpendam.
  4. Emosi terpendam akan memengaruhi pikiran agar keberadaannya disadari. Di sinilah biasanya akan muncul trigger, kita akan terpicu (ketrigger) oleh sesuatu atau seseorang. Hasilnya adalah muncul lagi emosinya. Jika emosinya masih ditolak dan tidak dirasakan, maka akan kembali menjadi emosi terpendam. Emosi terpendam akan kembali memengaruhi pikiran, ada trigger lagi dan muncul emosi lagi, jika ditolak lagi dan tidak dirasakan, maka menjadi emosi terpendam lagi, dan seterusnya, akhirnya menjadi seperti lingkaran setan.
  5. Emosi terpendam yang semakin menumpuk akan semakin memengaruhi pikiran sehingga menyebabkan overthinking, kecemasan berlebih, serangan panik, dan bukan cuma keluhan mental tapi juga keluhan fisik berupa rasa sakit di tubuh yang tidak jelas sebabnya atau terwujud juga menjadi penyakit fisik yang parah.

Contohnya begini, waktu kecil saat sedang menangis lalu kita disuruh diam oleh orang tua, kita kemudian berpikir bahwa menangis itu tidak baik, dari situlah kita belajar bahwa merasakan dan mengalirkan emosi itu tidak boleh, sehingga kita menjadi terbiasa untuk memendam emosi.

Alhamdulillaah otak kita bisa dilatih apa saja, otak bisa dilatih agar pemahaman ilmu yang lama bisa digantikan oleh pemahaman ilmu yang baru. Di sinilah pentingnya edukasi, kita perlu mengedukasi diri sendiri dengan informasi-informasi yang lebih bermanfaat bagi kita di masa sekarang. Termasuk tentang emosi, bahwa merasakan emosi negatif itu boleh, justru memendam emosi itu tidak baik. Tinggal kita berlatih bagaimana caranya merasakan emosi negatif agar tidak melukai diri sendiri dan orang lain.

Kata emosi dalam bahasa Inggris adalah emotion, energy in motion, energi yang bergerak. Jadi yang namanya emosi itu perlu dialirkan. Jika sudah dialirkan maka bisa dilepaskan, dibuang dari dalam tubuh, tidak lagi tersimpan sebagai emosi terpendam.
Merasakan itu dengan menggunakan tubuh, dengan indera yang kita miliki. Misalnya ketika sedih badan kita menjadi lemas, dada terasa sesak, telapak tangan menjadi dingin, cukup dirasakan saja, biarkan mengalir.

Tapi perlu diingat untuk tidak memberi makan emosi dengan pikiran-pikiran negatif atau bersikap sebagai korban keadaan, karena hal ini hanya akan menambah penderitaan. Ambil tanggung jawab penuh terhadap emosi yang muncul pada diri sendiri.

Merasakan emosi mungkin terasa tidak mudah apalagi jika sudah terbiasa langsung memendam emosi. Tapi dengan terus berlatih secara konsisten, in syaa ALLOH tubuh akan menjadi terbiasa merasakan emosi. Tidak harus sempurna, bersabarlah menghadapi diri sendiri dalam proses belajar merasakan emosi, berlemah lembutlah kepada diri sendiri.

Kesulitan berkomunikasi dengan orang lain itu disebabkan karena kita belum mampu berkomunikasi dengan diri sendiri. Salah satu bentuk kesulitan berkomunikasi dengan diri sendiri adalah memendam emosi. Emosi itu seperti bahasa yang digunakan oleh tubuh untuk memberitahu kita apa yang dibutuhkan olehnya. Bayangkan saja ketika tubuh kita sedang berusaha berkomunikasi dengan kita lalu kita abaikan, kita cuekin, kita anggap tidak ada apa-apa, jika kondisinya seperti itu apakah bisa disebut komunikasi yang sehat? Tentu saja tidak bukan? Artinya kita sedang membangun komunikasi yang tidak sehat dengan diri sendiri, bahkan bisa dibilang kita tidak mau berkomunikasi dengan diri sendiri.
Jika dengan diri sendiri saja kita tidak mau berkomunikasi maka wajar saja jika kita pun menjadi kesulitan ketika berusaha berkomunikasi dengan orang lain.

Perhatikan pernyataan berikut ini, "Kita tidak dapat memberikan apa yang tidak kita miliki" atau dengan kata lain, "Kita hanya dapat memberikan apa yang kita miliki."
Artinya kita tidak dapat memberikan komunikasi yang baik kepada orang lain jika kita sendiri tidak memiliki komunikasi yang baik dengan diri sendiri. Atau dengan kata lain bahwa kita hanya dapat memberikan komunikasi yang baik kepada orang lain jika kita memiliki komunikasi yang baik dengan diri sendiri.

Oleh karena itu bangunlah komunikasi yang baik dengan diri sendiri dulu, amati dan rasakan perubahan baik sekecil apa pun, apresiasi diri sendiri atas perubahan baik tersebut. Perlahan tapi pasti, in syaa ALLOH kamu pun akan dapat berkomunikasi dengan baik kepada orang lain, siapa pun dia, berapa pun usianya. Coba dan buktikan sendiri!

Semoga bermanfaat,
Kholis Widuri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Takut dan Tidak Sedih

  “Kami berfirman, “Turunlah kalian semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (QS. Al-Baqoroh: 38) Lawan kata dari “takut” dalam Bahasa Indonesia adalah berani, tegas, tenang, percaya diri, atau tidak takut. Lawan kata dari “sedih” dalam Bahasa Indonesia adalah senang, riang, bahagia, sumringah, ria, bungah, ceria, atau bangga. Kata-kata ini memiliki arti yang menunjukkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan, atau kegembiraan yang kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada ALLOH dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 62) “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLOH, dan dia berbuat baik, di...

Jalan yang Lurus

  “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (QS. Ghofir: 60) Sesungguhnya ALLOH selalu mengabulkan doa kita. Hanya saja kita yang sering tidak menyadarinya. Atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah berdoa. Ada sebuah doa yang selalu kita ulang setiap hari di dalam sholat. Tapi kita juga sering tidak menyadari bahwa kita telah berdoa meminta hal tersebut. Pada akhirnya kita tidak menanti-nanti terkabulnya doa tersebut. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”  (QS. Al-Fathihah: 6-7) Di setiap sholat kita berdoa kepada ALLOH agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh ALLOH. Siapakah mereka? “Dan barang siapa menaati ALLOH dan Ros...

Semua Manusia Itu Baik

Dulu aku mengira semua orang di dunia ini baik. Dan ternyata memang semua orang itu baik. tapi ada yang baiknya itu level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Ada juga yang baiknya itu level 0, level -1, level -2, level -3, dan seterusnya, he he he. Tapi semua orang itu memang baik kok karena seburuk-buruknya orang pasti ada kebaikannya dan sebaik-baiknya orang juga pasti ada keburukannya. Tidak ada yang bisa sempurna bukan? Namun seringkali kita lebih mudah untuk melihat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Bahkan sampai terucap kalimat yang menghakimi seperti “Diaa itu memang sudah ga bisa berubah, kaya gitu terus dari dulu ga pernah bisa jadi baik.” padahal selama masih hidup di dunia masih ada peluang untuk berubah menjadi lebih baik. Apa yang difokuskan oleh pikiran maka itulah yang kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Ketika ada orang yang terlihat begitu sulit untuk berubah menjadi lebih baik, jangan-jangan ada peran kita di situ. Gara-gara kita berpikir bahwa orang ...