Beberapa waktu yang lalu aku membuka kesempatan bagi teman-teman untuk bertanya tentang segala macam yang berkaitan dengan parenting, luka batin, kesehatan mental, dan sejenisnya. Aku bagikan di sini biar bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk yang lain juga. Silahkan dibaca dan semoga bermanfaat.
Pertanyaan:
Bagaimana caranya agar sembuh dari luka masa lalu yang kadang kita ga tahu lukanya seperti apa, yang mana, jadi mau berobat bingung? Tapi ketika mengasuh anak mudah meledak dan mudah terprovokasi oleh emosi sekitar.
Jawaban:
Bismillaah, aku akan mencoba menjawab ya.
Luka batin atau disebut juga dengan trauma adalah apa yang terjadi pada tubuh sebagai akibat dari sebuah peristiwa yang menyakitkan di masa kecil. Tubuh menyimpan luka karena pada saat peristiwa tersebut terjadi, emosinya tidak dirasakan dan dialirkan, sehingga menjadi emosi terpendam.
Secara fisiologi yang disebut sebagai luka batin adalah respon fight (melawan) dan flight (kabur) yang terperangkap di dalam tubuh.
Kenapa bisa terperangkap?
Ketika kita menghadapi ancaman maka tubuh akan masuk ke dalam mode bertahan agar bisa menghindari ancaman tersebut. Pertama tubuh akan berusaha melawan (fight), kemudian kabur (flight), dan apabila kedua hal tersebut tidak dapat dilakukan maka cara terakhir adalah dengan membeku (freeze). Tubuh akan mematikan semua sistem yang berjalan agar bisa tetap bertahan hidup dalam kondisi banjir hormon stres.
Namun ternyata ketika kita tidak dapat melawan dan kabur, respon fight dan flight itu tetap ada dan tidak hilang begitu saja, jika respon fight dan flight tidak dikeluarkan maka mereka akan disimpan di dalam tubuh, dan itulah yang disebut sebagai emosi terpendam atau trauma atau luka batin.
Contohnya begini, seorang anak kecil jatuh dari sepeda kemudian dia menangis karena kesakitan, tiba-tiba orang tuanya menyuruhnya berhenti menangis tapi dia justru semakin menangis, lalu orang tuanya akhirnya memarahi dia. Anak kecil tersebut menjadi takut kepada orang tuanya dan dia pun akhirnya berhenti menangis. Dia berpikir jika dia melawan orang tuanya dengan terus menangis maka dia akan semakin dimarahi, dan jika dia kabur agar tidak dimarahi orang tuanya maka dia juga akan semakin dimarahi, dia berpikir, "Bagaimana jika nanti dia diusir dari rumah dan tidak diberi makan?" Terdengar berlebihan? Tapi memang seperti itulah pikiran anak kecil, karena otaknya belum berkembang dengan sempurna dan otaknya hanya berpikir tentang bagaimana caranya agar bisa tetap bertahan hidup. Nah saat itulah respon fight dan flight yang seharusnya dikeluarkan malah menjadi disimpan di dalam tubuh. Akhirnya menjadi luka batin.
Dari penjelasan tadi maka untuk bisa menyembuhkan luka batin, kita perlu mengeluarkan respon fight dan flight dari dalam tubuh. Bagaimana cara mengeluarkannya? Di sinilah kita akan menemukan fungsi dari trigger atau pemicu.
Trigger bisa dalam bentuk apa saja, entah itu seseorang, sesuatu, atau peristiwa yang memicu emosi. Emosi yang muncul itu sebenarnya bukanlah emosi baru, melainkan emosi terpendam yang memang sudah ada di dalam tubuh, yaitu luka batin yang tadi sudah dijelaskan, berupa respon fight dan flight yang terperangkap di dalam tubuh.
Jika kita sudah memahami hal ini dengan baik maka kita justru akan bersyukur jika ada trigger, karena trigger itu sebenarnya adalah pintu keluar bagi emosi terpendam.
Yang perlu kita pelajari lagi adalah bagaimana agar pintu keluarnya itu terbuka lebar sehingga emosi terpendamnya bisa keluar dengan mudah tanpa menimbulkan luka baru.
Kita bisa belajar dari video hewan liar di alam bebas berikut ini:
- Video impala yang tubuhnya membeku ketika tertangkap oleh predator https://m.youtube.com/shorts/SOo9I4do1yo
- Video impala yang bergetar setelah tubuhnya membeku https://youtu.be/-QgglTik6G4
Di video pertama bisa dilihat bagaimana tubuh impala akan membeku jika sudah tidak bisa melawan dan kabur.
Di video kedua bisa dilihat bagaimana tubuh impala yang sebelumnya membeku tiba-tiba bergetar setelah aman dari predator. Getaran yang muncul itu adalah respon fight dan flight yang sebelumnya tersimpan di dalam tubuh impala saat tubuhnya masuk ke mode freeze. Jika keadaan sudah aman maka tubuh secara alami akan keluar dari mode freeze dan mengeluarkan respon fight dan flight yang tersimpan. Itulah kenapa hewan liar di alam bebas tidak mengalami trauma.
Tapi sayangnya yang terjadi pada manusia tidaklah begitu karena manusia sudah semakin jauh dari fitrahnya. Qodarullooh.
Ketika kita masuk ke mode membeku karena tidak bisa melawan dan kabur, kita mengalami kesulitan untuk keluar dari mode membeku sehingga respon fight dan flight pun sulit untuk dikeluarkan dari tubuh. Tubuh kita terus-menerus berada di mode membeku karena merasa masih ada ancaman yang mengintai, meskipun pada kenyataannya ancaman tersebut sudah tidak ada lagi.
Jadi yang perlu dilakukan adalah kita perlu meyakinkan tubuh bahwa saat ini kita berada dalam kondisi yang aman, kita tidak lagi berada di masa lalu yang mengancam.
Ketika tubuh merasa aman maka pintu keluar bagi emosi terpendam akan terbuka lebar, respon fight dan flight akan keluar dengan sendirinya.
Salah satu cara agar tubuh merasa aman adalah dengan fokus menjalani hidup di masa sekarang, tidak sibuk memikirkan masa lalu atau masa depan. Khusyuk dalam mengerjakan sesuatu, pikiran tidak sibuk kemana-mana. Mungkin tidak mudah tapi jika terus berlatih maka akan terbiasa.
Ada latihan sederhana yang bisa dilakukan agar bisa fokus di masa sekarang.
- Pertama, ambil jeda sejenak dan ambil posisi duduk santai atau rebahan di kasur, berdiri juga bisa, pastikan berada di tempat yang aman.
- Kedua, rasakan bagian tubuh yang menempel pada alas entah itu kursi, kasur, lantai, tanah, atau apa pun tempat kita berpijak.
- Ketiga, amati sekeliling, gerakkan pandangan mata kita secara perlahan, perhatikan setiap detail dari benda-benda di sekitar.
- Keempat, sadari nafas, rasakan udara yang keluar dan masuk dari hidung, tanpa berusaha mengaturnya.
- Kelima, lakukan semua itu dengan tetap menyadari apa yang dirasakan oleh tubuh. Misalnya jika tubuh ingin mengubah posisi, kebelet pipis, haus, ikuti saja apa maunya tubuh. Lalu lanjutkan kembali keempat langkah tadi. Lakukan selama 15 menit atau semampunya saja.
- Jika muncul sensasi apa pun di tubuh misalnya tiba-tiba tubuh bergetar, ada bagian tubuh yang sakit seperti pusing atau kesemutan, sadari bahwa itulah respon fight dan flight yang sedang berusaha keluar, dirasakan saja dan biarkan mengalir kemudian menghilang.
Rutinkan latihan tersebut, amati dan rasakan perubahan baik sekecil apa pun yang terjadi pada diri sendiri, berikan apresiasi kepada diri sendiri atas perubahan baik tersebut. Tetap bersabar menjalani prosesnya, yakinlah bahwa semua akan baik-baik saja. Hidup itu hanya perlu dijalani dengan berani. Selamat mencoba!
Semoga bermanfaat,
Kholis Widuri
Komentar
Posting Komentar