Langsung ke konten utama

Pertanyaan dan Jawaban (7)

 Beberapa waktu yang lalu aku membuka kesempatan bagi teman-teman untuk bertanya tentang segala macam yang berkaitan dengan parenting, luka batin, kesehatan mental, dan sejenisnya. Aku bagikan di sini biar bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk yang lain juga. Silahkan dibaca dan semoga bermanfaat.

Pertanyaan:
Bismillāh…
Afwan, ana ingin menyampaikan sesuatu yang cukup berat…
Kadang ana masih sangat bingung, hikmah apa yang bisa diambil dari berbagai peristiwa pahit sejak kecil hingga sekarang, bahkan setelah menikah. Hidup terasa terus berulang dalam kesulitan, pindah ke sana kemari, kondisi ekonomi belum stabil bahkan sering down meski sudah bertahun-tahun menikah, hingga anak-anak ikut terdampak.
Mereka sering menyaksikan konflik di rumah, emosi mereka ikut terpengaruh, bahkan sampai ke kemampuan belajar. Ana merasa sangat sedih dan lelah… sampai pernah terlintas pikiran yang sangat buruk karena tidak kuat menghadapi semuanya.
Ana ingin memahami, sebenarnya apa hikmah di balik semua ini, dan bagaimana cara menyikapinya dengan benar…
Di sisi lain, kondisi rumah tangga juga sangat berat. Ana dan suami sama-sama memiliki kondisi mental yang tidak stabil, sering terjadi konflik yang cukup keras bahkan di depan anak-anak.
Ana sangat khawatir dengan kondisi ini, terutama dampaknya bagi anak-anak. Ana benar-benar ingin memperbaiki keadaan keluarga ini, tapi merasa tidak tahu harus mulai dari mana.
Mohon nasihat dan arahannya…
Jazaakumullāhu khoyron

Jawaban:
Bismillaah, aku akan mencoba menjawab ya.

Aku ikut prihatin dengan kondisimu, semoga ALLOH memberikan kesabaran tanpa batas kepadamu, aamiin.
Dari ceritamu aku melihat bahwa kamu sangat kebingungan. Biasanya kebingungan itu terjadi karena ketidaktahuan atas apa yang sedang dialami. Lalu apa yang menyebabkan ketidaktahuan? Tidak tahu itu karena tidak punya pengetahuan bukan? Tidak tahu karena tidak memiliki ilmu. Tidak tahu karena tidak punya informasi.
Selanjutnya, apakah obat dari ketidaktahuan? Belajar, mengedukasi diri dengan informasi-informasi yang berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi.
Apakah kamu sudah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengedukasi dirimu?

Disebutkan di dalam ayat Al-Qur'an bahwa "Kita tidak dapat bersabar terhadap sesuatu jika tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu tersebut."
Lihatlah, bahkan kita tidak akan dapat bersabar terhadap sesuatu jika tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu tersebut.
Jadi sudah sangat jelas bahwa yang namanya belajar atau mengedukasi diri itu sangat penting, agar kita memiliki pengetahuan sehingga kita pun dapat bersabar.

Tanpa pengetahuan tentu saja akan sulit untuk menemukan hikmah dari setiap peristiwa dalam kehidupan.
Dan sebaik-baik pengetahuan tentu saja pengetahuan tentang agama bukan? Belajar ilmu dunia juga tidak ada salahnya jika memang bermanfaat terutama jika ilmu dunia tersebut dapat mendukung kita untuk mengamalkan ilmu agama.
Belajar saja tidak cukup, memiliki pengetahuan saja tidak cukup. Karena pengetahuan atau ilmu yang sudah dipelajari dan dipahami itu harus diamalkan agar dapat menjadi ilmu yang bermanfaat. Apakah kamu yakin bahwa selama ini sudah benar-benar mengamalkan ilmu yang kamu pahami?
Mengamalkan ilmu itu pun tidak cukup sekali, dua kali, atau sepuluh kali, tapi harus terus-menerus secara konsisten, istiqomah.

Sesungguhnya pertolongan ALLOH itu dekat bukan? Jangan berputus asa dari rahmat ALLOH. Qodarullooh selalu baik, percayalah bahwa semua badai pasti akan berlalu. Teruslah berprasangka baik kepada ALLOH.
Baarokalloohu fiik.

Semoga bermanfaat,
Kholis Widuri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Takut dan Tidak Sedih

  “Kami berfirman, “Turunlah kalian semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (QS. Al-Baqoroh: 38) Lawan kata dari “takut” dalam Bahasa Indonesia adalah berani, tegas, tenang, percaya diri, atau tidak takut. Lawan kata dari “sedih” dalam Bahasa Indonesia adalah senang, riang, bahagia, sumringah, ria, bungah, ceria, atau bangga. Kata-kata ini memiliki arti yang menunjukkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan, atau kegembiraan yang kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada ALLOH dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 62) “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLOH, dan dia berbuat baik, di...

Jalan yang Lurus

  “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (QS. Ghofir: 60) Sesungguhnya ALLOH selalu mengabulkan doa kita. Hanya saja kita yang sering tidak menyadarinya. Atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah berdoa. Ada sebuah doa yang selalu kita ulang setiap hari di dalam sholat. Tapi kita juga sering tidak menyadari bahwa kita telah berdoa meminta hal tersebut. Pada akhirnya kita tidak menanti-nanti terkabulnya doa tersebut. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”  (QS. Al-Fathihah: 6-7) Di setiap sholat kita berdoa kepada ALLOH agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh ALLOH. Siapakah mereka? “Dan barang siapa menaati ALLOH dan Ros...

Semua Manusia Itu Baik

Dulu aku mengira semua orang di dunia ini baik. Dan ternyata memang semua orang itu baik. tapi ada yang baiknya itu level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Ada juga yang baiknya itu level 0, level -1, level -2, level -3, dan seterusnya, he he he. Tapi semua orang itu memang baik kok karena seburuk-buruknya orang pasti ada kebaikannya dan sebaik-baiknya orang juga pasti ada keburukannya. Tidak ada yang bisa sempurna bukan? Namun seringkali kita lebih mudah untuk melihat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Bahkan sampai terucap kalimat yang menghakimi seperti “Diaa itu memang sudah ga bisa berubah, kaya gitu terus dari dulu ga pernah bisa jadi baik.” padahal selama masih hidup di dunia masih ada peluang untuk berubah menjadi lebih baik. Apa yang difokuskan oleh pikiran maka itulah yang kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Ketika ada orang yang terlihat begitu sulit untuk berubah menjadi lebih baik, jangan-jangan ada peran kita di situ. Gara-gara kita berpikir bahwa orang ...