Beberapa waktu yang lalu aku membuka kesempatan bagi teman-teman untuk bertanya tentang segala macam yang berkaitan dengan parenting, luka batin, kesehatan mental, dan sejenisnya. Aku bagikan di sini biar bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk yang lain juga. Silahkan dibaca dan semoga bermanfaat.
Pertanyaan:
Bismillāh…
Afwan, saya ingin meminta nasihat terkait kondisi rumah tangga yang saat ini benar-benar berat…
1. Bagaimana menyikapi suami yang melakukan kekerasan fisik (KDRT)? Qadarullāh, ketika saya sudah sangat lelah dan memang terkadang ketika emosi memuncak saya masih kelepasan bicara, suami menyerang dan saya hanya diam dan membiarkan diri dihantam, bahkan sampai dibenturkan ke dinding. Ketika ada kesempatan, saya berusaha membela diri dengan menyerang balik, tapi justru berujung saya diserang kembali dan semakin kalah.
Saya masih terus berharap suami bisa berubah, namun yang terjadi justru semakin keras. Sementara itu, saya juga merasa tidak sanggup jika harus membesarkan 4 anak sendiri dengan kondisi ekonomi yang belum stabil, terlebih jika nanti harus tinggal bersama orang tua yang telah banyak menumpuk luka untuk saya dan kondisi rumah orang tua juga tidak nyaman dan aman bagi saya. Kondisi ini membuat saya sangat tertekan dan bingung harus bagaimana…
2. Ketika dihadapkan pada lingkungan yang menurut kita toksik, sikap yang benar itu bagaimana? Apakah tetap bertahan meskipun kondisi tidak aman dengan harapan akan berubah, atau justru harus mengambil langkah menjauh ketika sudah tidak nyaman dan tidak aman?
Saya sering bingung. Khawatir setiap langkah dianggap sebagai pelarian…
3. Saya juga sering dibilang istri pembangkang, tidak becus, bahkan durhaka. Padahal itu karena saya merasa kondisi saya tidak dipahami oleh suami dan keputusan sering diambil sepihak tanpa mempertimbangkan keadaan saya dan anak-anak.
Mohon nasihat dan arahannya… karena saya benar-benar ingin memperbaiki keadaan, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Jazaakumullāhu khoyron
Jawaban:
Bismillaah, aku akan mencoba menjawab ya.
Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi padamu, semoga ALLOH melapangkan hatimu dan meluaskan pikiranmu, aamiin.
Apakah kamu mengetahui bahwa kita tidak akan pernah bisa mengendalikan orang lain? Yang bisa kita kendalikan adalah diri kita sendiri.
Aku tidak membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh suamimu terhadapmu, tapi suamimu berbuat seperti itu karena ALLOH yang menghendaki bukan? Qodarullooh selalu baik, meskipun kadang rasanya tidak menyenangkan.
Aku akan menjelaskan sedikit tentang resonansi. Dalam ilmu fisika disebutkan bahwa resonansi adalah ikut bergetarnya sebuah benda karena getaran dari benda yang lain, syarat terjadinya resonansi adalah adanya kesamaan frekuensi. Jika frekuensinya tidak sama maka tidak akan terjadi resonansi. Dan ternyata semua yang ada di alam semesta ini memiliki frekuensi, kita akan beresonansi dengan semua hal yang sefrekuensi dengan diri kita. Jika dikaitkan dengan emosi, emosi positif itu frekuensinya tinggi dan emosi negatif itu frekuensinya rendah.
Berikutnya aku akan memberikan informasi tentang hukum alam yang disebut Law of Projection, hukum proyeksi. Jika kita membayangkan sebuah laptop yang menampilkan sebuah gambar apel di layarnya, kemudian laptop tersebut dihubungkan dengan proyektor dan proyektor akan memproyeksikan ke dinding, maka yang muncul di dinding pun gambar apel, sesuai dengan yang ada di layar laptop. Nah laptop itu adalah gambaran dari pikiran kita sedangkan dinding adalah kenyataan yang kita alami dalam kehidupan. Apa yang ada di pikiran kita akan diproyeksikan pada kenyataan.
Aku rangkum ya:
- Kita hanya dapat mengendalikan diri sendiri.
- Yang sefrekuensi akan beresonansi.
- Apa yang ada di pikiran akan diproyeksikan pada kenyataan.
Lalu kamu berharap bahwa suamimu akan berubah? Padahal kamu tidak akan pernah dapat mengendalikan suamimu. Yang bisa kamu kendalikan adalah dirimu sendiri.
Ingat bahwa semua musibah adalah akibat dari dosa kita sendiri. Artinya tidak ada celah untuk menyalahkan orang lain, tidak ada gunanya merasa diri sebagai korban keadaan. Ambillah tanggung jawab penuh atas dirimu sendiri.
Ubahlah frekuensimu menjadi frekuensi tinggi maka kamu pun akan beresonansi dengan segala hal di alam semesta ini yang berfrekuensi tinggi.
Ubahlah pikiranmu sehingga yang terproyeksikan pada kenyataan pun menjadi berubah, sesuai dengan apa yang kamu fokuskan di pikiran. Ingat bahwa ALLOH sesuai prasangka hamba-Nya. Pikiran itu termasuk prasangka bukan?
Kamu sama sekali tidak perlu memperbaiki keadaan, kamu hanya perlu mengubah dirimu sendiri, karena memang hanya itulah yang dapat kamu lakukan. Bukankah ALLOH tidak akan pernah mengubah keadaan suatu kaum jika kaum tersebut belum mengubah keadaan mereka sendiri? Yang diubah adalah iman dan takwanya. Teruslah bersungguh-sungguh beriman dan bertakwa sesuai kemampuan. Jangan pernah berputus asa dari rahmat ALLOH. Tetap semangat ya!
Semoga bermanfaat,
Kholis Widuri
Komentar
Posting Komentar