Langsung ke konten utama

Pertanyaan dan Jawaban (8)

 Beberapa waktu yang lalu aku membuka kesempatan bagi teman-teman untuk bertanya tentang segala macam yang berkaitan dengan parenting, luka batin, kesehatan mental, dan sejenisnya. Aku bagikan di sini biar bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk yang lain juga. Silahkan dibaca dan semoga bermanfaat.

Pertanyaan:
Bismillāh…
Afwan, saya ingin meminta nasihat terkait kondisi rumah tangga yang saat ini benar-benar berat…
1. Bagaimana menyikapi suami yang melakukan kekerasan fisik (KDRT)? Qadarullāh, ketika saya sudah sangat lelah dan memang terkadang ketika emosi memuncak saya masih kelepasan bicara, suami menyerang dan saya hanya diam dan membiarkan diri dihantam, bahkan sampai dibenturkan ke dinding. Ketika ada kesempatan, saya berusaha membela diri dengan menyerang balik, tapi justru berujung saya diserang kembali dan semakin kalah.
Saya masih terus berharap suami bisa berubah, namun yang terjadi justru semakin keras. Sementara itu, saya juga merasa tidak sanggup jika harus membesarkan 4 anak sendiri dengan kondisi ekonomi yang belum stabil, terlebih jika nanti harus tinggal bersama orang tua yang telah banyak menumpuk luka untuk saya dan kondisi rumah orang tua juga tidak nyaman dan aman bagi saya. Kondisi ini membuat saya sangat tertekan dan bingung harus bagaimana…
2. Ketika dihadapkan pada lingkungan yang menurut kita toksik, sikap yang benar itu bagaimana? Apakah tetap bertahan meskipun kondisi tidak aman dengan harapan akan berubah, atau justru harus mengambil langkah menjauh ketika sudah tidak nyaman dan tidak aman?
Saya sering bingung. Khawatir setiap langkah dianggap sebagai pelarian…
3. Saya juga sering dibilang istri pembangkang, tidak becus, bahkan durhaka. Padahal itu karena saya merasa kondisi saya tidak dipahami oleh suami dan keputusan sering diambil sepihak tanpa mempertimbangkan keadaan saya dan anak-anak.
Mohon nasihat dan arahannya… karena saya benar-benar ingin memperbaiki keadaan, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Jazaakumullāhu khoyron

Jawaban:
Bismillaah, aku akan mencoba menjawab ya.

Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi padamu, semoga ALLOH melapangkan hatimu dan meluaskan pikiranmu, aamiin.

Apakah kamu mengetahui bahwa kita tidak akan pernah bisa mengendalikan orang lain? Yang bisa kita kendalikan adalah diri kita sendiri.
Aku tidak membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh suamimu terhadapmu, tapi suamimu berbuat seperti itu karena ALLOH yang menghendaki bukan? Qodarullooh selalu baik, meskipun kadang rasanya tidak menyenangkan.

Aku akan menjelaskan sedikit tentang resonansi. Dalam ilmu fisika disebutkan bahwa resonansi adalah ikut bergetarnya sebuah benda karena getaran dari benda yang lain, syarat terjadinya resonansi adalah adanya kesamaan frekuensi. Jika frekuensinya tidak sama maka tidak akan terjadi resonansi. Dan ternyata semua yang ada di alam semesta ini memiliki frekuensi, kita akan beresonansi dengan semua hal yang sefrekuensi dengan diri kita. Jika dikaitkan dengan emosi, emosi positif itu frekuensinya tinggi dan emosi negatif itu frekuensinya rendah.

Berikutnya aku akan memberikan informasi tentang hukum alam yang disebut Law of Projection, hukum proyeksi. Jika kita membayangkan sebuah laptop yang menampilkan sebuah gambar apel di layarnya, kemudian laptop tersebut dihubungkan dengan proyektor dan proyektor akan memproyeksikan ke dinding, maka yang muncul di dinding pun gambar apel, sesuai dengan yang ada di layar laptop. Nah laptop itu adalah gambaran dari pikiran kita sedangkan dinding adalah kenyataan yang kita alami dalam kehidupan. Apa yang ada di pikiran kita akan diproyeksikan pada kenyataan.

Aku rangkum ya:

  1. Kita hanya dapat mengendalikan diri sendiri.
  2. Yang sefrekuensi akan beresonansi.
  3. Apa yang ada di pikiran akan diproyeksikan pada kenyataan.
Sekarang coba kamu amati dan renungkan apa yang terjadi pada dirimu selama ini. Suami yang kasar, orang tua yang membuatmu terluka, kondisi ekonomi yang belum stabil, lingkungan yang toksik, kamu disebut istri pembangkang, kamu merasa tidak aman di rumah orang tua. Coba perhatikan apa yang menjadi kenyataan dalam hidupmu. Apa yang menjadi kenyataan adalah proyeksi dari pikiranmu sendiri. Semua yang terjadi padamu adalah resonansi dari frekuensi dirimu.
Lalu kamu berharap bahwa suamimu akan berubah? Padahal kamu tidak akan pernah dapat mengendalikan suamimu. Yang bisa kamu kendalikan adalah dirimu sendiri.
Ingat bahwa semua musibah adalah akibat dari dosa kita sendiri. Artinya tidak ada celah untuk menyalahkan orang lain, tidak ada gunanya merasa diri sebagai korban keadaan. Ambillah tanggung jawab penuh atas dirimu sendiri.
Ubahlah frekuensimu menjadi frekuensi tinggi maka kamu pun akan beresonansi dengan segala hal di alam semesta ini yang berfrekuensi tinggi. 
Ubahlah pikiranmu sehingga yang terproyeksikan pada kenyataan pun menjadi berubah, sesuai dengan apa yang kamu fokuskan di pikiran. Ingat bahwa ALLOH sesuai prasangka hamba-Nya. Pikiran itu termasuk prasangka bukan?

Kamu sama sekali tidak perlu memperbaiki keadaan, kamu hanya perlu mengubah dirimu sendiri, karena memang hanya itulah yang dapat kamu lakukan. Bukankah ALLOH tidak akan pernah mengubah keadaan suatu kaum jika kaum tersebut belum mengubah keadaan mereka sendiri? Yang diubah adalah iman dan takwanya. Teruslah bersungguh-sungguh beriman dan bertakwa sesuai kemampuan. Jangan pernah berputus asa dari rahmat ALLOH. Tetap semangat ya!

Semoga bermanfaat,
Kholis Widuri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Takut dan Tidak Sedih

  “Kami berfirman, “Turunlah kalian semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (QS. Al-Baqoroh: 38) Lawan kata dari “takut” dalam Bahasa Indonesia adalah berani, tegas, tenang, percaya diri, atau tidak takut. Lawan kata dari “sedih” dalam Bahasa Indonesia adalah senang, riang, bahagia, sumringah, ria, bungah, ceria, atau bangga. Kata-kata ini memiliki arti yang menunjukkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan, atau kegembiraan yang kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada ALLOH dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 62) “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLOH, dan dia berbuat baik, di...

Jalan yang Lurus

  “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (QS. Ghofir: 60) Sesungguhnya ALLOH selalu mengabulkan doa kita. Hanya saja kita yang sering tidak menyadarinya. Atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah berdoa. Ada sebuah doa yang selalu kita ulang setiap hari di dalam sholat. Tapi kita juga sering tidak menyadari bahwa kita telah berdoa meminta hal tersebut. Pada akhirnya kita tidak menanti-nanti terkabulnya doa tersebut. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”  (QS. Al-Fathihah: 6-7) Di setiap sholat kita berdoa kepada ALLOH agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh ALLOH. Siapakah mereka? “Dan barang siapa menaati ALLOH dan Ros...

Semua Manusia Itu Baik

Dulu aku mengira semua orang di dunia ini baik. Dan ternyata memang semua orang itu baik. tapi ada yang baiknya itu level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Ada juga yang baiknya itu level 0, level -1, level -2, level -3, dan seterusnya, he he he. Tapi semua orang itu memang baik kok karena seburuk-buruknya orang pasti ada kebaikannya dan sebaik-baiknya orang juga pasti ada keburukannya. Tidak ada yang bisa sempurna bukan? Namun seringkali kita lebih mudah untuk melihat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Bahkan sampai terucap kalimat yang menghakimi seperti “Diaa itu memang sudah ga bisa berubah, kaya gitu terus dari dulu ga pernah bisa jadi baik.” padahal selama masih hidup di dunia masih ada peluang untuk berubah menjadi lebih baik. Apa yang difokuskan oleh pikiran maka itulah yang kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Ketika ada orang yang terlihat begitu sulit untuk berubah menjadi lebih baik, jangan-jangan ada peran kita di situ. Gara-gara kita berpikir bahwa orang ...